Skip to content


Di Lereng Lawu Kunyatakan Cintaku

Aku mengenal Lenny –sebut saja begitu- ketika masih SMU. Tapi kami tidak berteman dekat. Bahkan sikap Lenny acuh tak acuh kepada teman-temannya. Tetapi kebetulan kami sama-sama bergabung di kelompok pencinta alam di sekolah. Aku jadi mengenalnya lebih dekat. Dan, di lereng gunung Lawu kunyatakan cintaku itu.
Lenny termasuk anak yang rajin. Setiap habis pertemuan dengan kelompok pecinta alam tersebut, ia selalu menyingsingkan lengan baju untuk mengangkat barang-barang berat.
Awal September yang indah. Kelompok pecinta alam berencana mendaki puncak gunung. Setiap kelas diminta untuk mengirimkan wakilnya dua orang. Aku dan Lenny mewakili kelompok kelas III. Hari pertama di tempat tujuan. Sebelum mendaki, seluruh peserta beristirahat sebentar di kaki gunung yang hanya menggelar sleeping bag atau kasur gulung.
Saat itu masih siang hari, menjelang sore baru kami berangkat, karena pendakian saat itu hanya dikhususkan untuk pendakian malam hari. Tapi baru mendaki satu jam. Tiba-tiba mendung berarak tepat berada di atas kami.
Kilatan petir dan suara keras guntur memecah keheningan malam itu.
Semua tim yang berjumlah 15 orang yang saat itu tengah melawan medan berkerikil tiba-tiba berteriak ketakutan.
Selang beberapa menit hujan lebat pun turun mengguyur lereng gunung. Dari arah depan sebuah senter diarahkan pada semua pendaki dan terdengar suara kepala regu berteriak, ”Hei berhenti dulu, semua tim secepatnya pasang tenda darurat”.
Dengan berbasah-basah ria kami semua cepat memasang tenda. Tak terasa hawa dingin air hujan segera menyergap kami. Begitu tenda terpasang aku bersama Lenny segera masuk tenda. Kulihat tubuh mungil Lenny menggigil kedinginan.
Dengan pakaian yang basah kuyup aku menghampirinya, “Len, kamu ganti baju saja biar nggak masuk angin. Nanti kalau sakit kamu malah ndak bisa ikut mendaki. “kataku.
“Oh ya tapi gantinya disini ya” kata Lenny malu-malu. Karena saat itu aku mengenakan jaket tebal yang tahan air, segera kulepas jaketku dan kuberikan pada Lenny.
“Ini lho pakai jaketku saja biar hangat, nggak apa-apa pakai saja aku masih punya jaket kok,” ujarku saat itu. Mungkin karena saat itu tubuh Lenny sudah sangat dingin dan tak kuat menahan hawa yang begitu menusuk tulang, tanpa permisi ia langsung melepas busananya.
“Ah maaf ya aku sangat kedinginan sekali,” ujarnya malu-malu. Begitu tubuh Lenny tanpa busana kulihat betapa indahnya dan sempurnanya tubuh cantik ini, gumanku saat itu.
Tiba-tiba Lenny minta jaket yang aku berikan, “Mas jaketnya mana, kok lihat aku terus sih,” ujarnya dengan gugup aku raih jaket yang ada di sampingku dan kusodorkan padanya.
Tak terasa di luar tenda suara gemuruh air hujan terus membasahi lereng Gunung Lawu dan terdengar suara teman-teman tertawa dan menyanyi di dalam tenda.
Dasarnya aku sejak lama memendam rasa padanya, saat itu tak kusia-siakan. “Len, tahukah kamu apa isi hatiku selama ini, tahukah kamu bahwa aku sayang kamu? “ kataku dengan suara terbata-bata.
Dia menunduk, diam dan tak menjawab. Kuberanikan memegang tangannya dan dia tak menolaknya. Langsung saja aku mendekapnya. Begitu Lenny kudekap tiba-tiba suara kepala regu memanggilku.
“Rendy, apakah kamu punya lilin, tolong kasih aku sebatang punyaku habis nih,” ujar Ratno. Tanpa membuka pintu tenda aku sahut saja lilin yang sejak tadi menjadi saksi bisu. “Nih ambil aja punyaku” kataku sambil menyodorkan sebatang lilin di sela-sela lubang angin.
“Lho kenapa tendamu gelap?” tanya Ratno. “Emang aku senang gelap, kok,” kataku. Begitu kepala regu beranjak pergi, kulanjutkan “Ayo cepat keburu ada teman-teman nih, jawab dong,” pintaku kepada Lenny.
Dengan malu-malu ia mengangguk. Tak terkira senangnya hatiku pada saat itu.Rasanya melayang jiwa ini. Bersamaan dengan itu hujan turun yang begitu deras tiba-tiba berhenti.
“Hai udah terang nih ayo kemasi semua barang-barang jangan sampai tertinggal,” teriak kepala regu. Tepat pukul 9 malam semua teman-temanku sudah mengemasi semua barang-barangnya dan aku bersama Lenny siap berangkat ke puncak yang ternyata masih cukup lumayan. Tapi karena aku sudah resmi pacaran bersama Lenny pendakian itu tak membuatku capek, bahkan aku bertambah semangat untuk mencapai puncak.
Tepat pukul 03.00 aku sudah berada di puncak dan kembali turun saat itu juga aku pun bersorak kegirangan. Bukan karena tiba di puncak tapi karena aku berhasil menjadi pacar temanku, Lenny. Ternyata dia sejak dulu menyimpan perasaan yang sama denganku. Oh betapa bangganya aku jadi pacarnya Lenny. Dan ini cinta pertamaku, di gunung Lawu. (cerita kiriman yoga, wonodri kopen, semarang)

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • Blogosphere News
  • LinkedIn
  • Technorati

Posted in Cerita Cinta.


3 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. anto says

    menarik…^^
    but imposhible is nothing…

  2. mbote says

    ini benerbener terjadi gak?
    kalo menurutku ini masih lebih hebat ceritaku…….
    ak mendaki gunung klotok ama temen cewekku. dia bukan apaapaku. cm sebatas temen doank. tapi coba tebak apa yng kulakukan dg dy…..
    di sana, di puncak gunung klotok, setidaknya ak udh pernah menikmati enaknya tubuh seorang cewek. apalagi dy punya wajah yg cantik……..
    terasa manis bibrnya, manis lidahnya sensasi tak terlupakan sampesampe saat ak ngetik comment ini ak masih bisa ngrasain enaknya ‘dy’.
    trims….

    kisah nyata lho……..

  3. koko says

    mbote sayangnya ga nanya km tuhhh wekkks!!



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.