Skip to content


Menikah Demi Ortu, Rumah Tanggaku Hancur

Menikah hanya karena ingin membahagiakan orang tua, akhirnya rumah tangga hancur ditengah jalan. Padahal, buah dari pernikahan Marni (45) Marno (50) itu sudah lahir 6 orang anak. Marni, wanita yang setiap harinya mengais rejeki di Pasar Klewer, Solo ini mengatakan, peristiwa berawal ketika dirinya bersama orang tuanya, yang kebetulan seorang polisi, tinggal di derah Sumatra Barat.
Saat itu umurnya baru berusia 19 tahun. Dia mempunyai adik seorang perempuannya, sebut saja Yanti, saat itu berumur 17 tahun. Meski adiknya lebih kecil, namun saat itu adiknya telah “laku” dahulu. Yanti disunting oleh orang setempat.
Inilah awal petaka itu datang. Melihat adiknya yang sudah menikah lebh dahulu, membuat orang tua mereka bingung. Orang tua mereka semakin bingung, begitu tahu kalau saat Marni itu belum mempunyai pacar. Banyak sih… lelaki yang dekat dengannya, namun Marni belum manjatuhkan pilihan ke satu orangpun.
Akan tetapi orang tuanya tak mau tahu dengan keadaannya itu. Orang tuanya terus meminta Marni agar segera menikah. Karena desakan orang tua itulah, akhirnya Marni menjatuhkan pilihannya kepada Marno, seorang lelaki warga setempat. Marni memang sudah kenal agak lama dengan lelaki itu, namun Marni tak ada rasa cinta dengan Marno.
Demi kebahagiaan orang tuanya, akhirnya Marno- Marni menikah. “Biarlah, pernikahaan tanpa cinta ini akan saya jalani. Entah apa jadinya nanti. Yang penting orang tua bahagia,” pikir Marni saat itu.
Setahun kemudian, lahirlah seorang anak dari rahim Marni. Akan tetapi, dengan lahirnya bocah itu bukannya menambah mesra rumah tangga Marno-Marni, namun malah bisa dikatakan awal kehancuran rumah tangga mereka. Saat itu, Marno-Marni mulai sering terlibat cekcok. Setiap kali cekcok, Marno tak hanya memarahi dengan kata-kata saja, bahkan sesekali juga menamparnya. Bersamaan itu pula, Marno mulai jarang pulang. Marno lebih suka pergi dari rumahnya dan mabuk-mabukkan ataupun minum-minuman beralkohol bersama teman-temannya.
Meski demikian, Marnipun berusaha sabar dan tetap berdoa agar suaminya kembali baik. Waktu terus berjalan, meski rumah diantara mereka sering cekcok namun mereka tetap mempertahankan rumah tangganya. Bersamaan itu pula, anak mereka terus bertambah. Sejak anak ketiganya lahir, pasangan Marno-Marni pindah ke Solo. Mereka menjalani kehidupannya dengan mengais rejeki di lingkungan Pasar Klewer.
Selama hidup di Solo, rumah tangga mereka memang juga tidak harmonis. Marno juga masih sering melakukan perbuatan-perbuatan yang paling tidak disukai oleh Marni, yaitu main dan mendem. Akan tetep, meski kurang harmonis, anak mereka terus bertambah.
Ketika anak mereka sudah 6 orang dan umur rumah tangganya mencapai 22 tahun, rumah tangga mereka diterpa badai cukup kuat. Kali ini badai itu sangat besar, sehingga Marni berkeinginan untuk bercerai. Marno yang sekarang bekerja menjadi satpam di sebuah Bank di Solo, ogah mencerainya. Bahkan Marno selalu mengancam Marni jika minta cerai.
Rupanya Marni sudah tak kuat hidup bersama Marno. Diam-diam Marni mengajukan cerai ke pengadilan. Dan sekarang, kasunya ini masih dalam persiadangan. Marni sudah bersidang berkali-kali, namun status janda belum didapatkannya. (diceritakan marni kepada ais)

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • Blogosphere News
  • LinkedIn
  • Technorati

Posted in Cerita Cinta.


One Response

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. Unyil says

    Harusnya sampe tuntas gimana akhirnya..bisa bercerai atau ada apa gitu misalnya yg membuat marninya terpaksa tetep jadi istri marno,garing.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.