Skip to content


Mengundang Jamaah Sholat dengan Suara Gamelan

** Menelusuri Jejak Dakwah Sunan Kalijaga di Sendang Saliran, Jogjakarta (2-Habis)
kalijaga Strategi Kanjeng Sunan Kalijaga menarik perhatian masyarakat agar mau masuk ke masjid, maka dibunyikan dua buah gamelan yang ditempatkan di halaman masjid Ageng. Gamelan itu dibuat dan dirancangan sendiri oleh Kanjeng Sunan. Kini, kedua gamelan itu dikeramatkan dan diletakan di bangsal Pagongan keraton Jogjakarta.
Pada awalnya, stategi kanjeng sunan Kalijaga menempatkan gamelan di pelayaran masjid mengundang kontroversi di antara para wali. Pasalnya, masjid Ageng yang seyogyanya akan dipergunakan untuk beribadah itu belakangan malah akan dijadikan ajang permainan alat musik gamelan. Meski pada akhirnya disepakati karena membunyikan gamelan di pelataran masjid itu dianggap sebagai hal yang makruh.
Kiranya demi kelancaran dakwah Islam, gagasan kanjeng Sunan Kalijaga itupun dapat dipahami oleh wali lainnya sebagai kebijaksanaan dalam berdakwah. Bahkan, kanjeng sultan pun menyetujui pelaksanaan ide Kanjeng sunan itu. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Sekaten, “Menggah kerameyan selaten wau duk kinanipun kacariyos yasanipun Sang Linakung Susuhunan Kalijaga anggenipun mangesti jembaring tebaning agami Islam. Awit agami Islam makaten jembar, cekap kangge nyakup itawi madhahi kajiwan Jawi-Hindu,”.
Maksudnya, bahwa keramaian tetabuhan gending-gending gamelan tersebut memang merupakan hasil budi Kanjeng Sunan Kalijaga dalam menyebarluaskan agama Islam. Karena Agama Islam itu sebenarnya sangat luas, bahkan mampu mencakup dan menampung aspirasi kejiwaan Jawa Hindu.
Maka, mulailah dalam bulan rabiulawal, sepekan sebelum Maulid Nabi Muhammad SAW, ditabuhlah seperangkat gamelan. Untuk memudahkan dalam memainkan alat-alat berat tersebut, didirikanlah sebuah bangunan di pelataran masjis Ageng. Dengan luas bujur sangkar ukuran sekitar 7 m x 7 m, bangunan bercungkup itu digunakan untuk menaruh dan membunyikan gamelan. Dengan demikian, terbesitlah perkataan untuk menyebut tempat itu sebagai bangsal Pagongan. Sebuah bangunan tempat gong yang merupakan salah satu dari perangkat gamelan yang paling besar.
Agaknya kekuatan gamelan tersebut bukan main-main. Dipercaya, gending-gending yang merupakan hasil bebunyian dari perangkat gamelan tetsebut mempunyai daya hipnotis yang tinggi. Setidaknya gamelan itu telah menyirep ribuan orang selama lebih dari dua setengah abad lamanya.
Aneh memang. Bahkan, beberapa orang mengaku tidak tahu harus berbuat apa ketika mereka mendengarkan alunan bunyi demung dan dentang gong yang bersumber dari perangkat gamelan yang dimainkan dalam pagongan itu. Siapa pun akan menjadi sangat terpesona. Tanpa disadari kaki mereka akan melangkah menuju bangsal Pagongan untuk mendengarkan kedua gamelan yang dinamai Kiai Nagawilaga dan Kiai Gunturmadu.
“Tanpa saya sadari saya menuju ke sini (Pagongan selatan) untuk mendengarkan alunan gamelan Kiai Nagawilaga. Kedengarannya indah sekali,” tutur salah seorang bapak yang mengaku berasal dari Klaten. Padahal, tujuannya semula bersama keluarganya hanyalah melihat-lihat keramaian perayaan pasar di Alun-alun utara.
Tahu-tahu minat mereka lebih cenderung kepada nada-nada Kiai Nagawilaga. Hal senada juga dialami oleh salah seorang pengunjung yang mengali asli warga Jogjakarta. Ia mengaku seakan berada di tempat yang aneh ketika benar-benar merasa gemulainya nada Kiai Gunturmadu yang dimainkan di bangsal Pagongan Selatan, ”Saya agak merinding, suara itu seakan-akan mempengaruhi saya,” ucapnya.
Namun, begitu masyarakat yang sedari tadi duduk bergerombol pada undhak-undhakan (tangga) bangsal Pagongan tersebut masih saja terpaku tak bergeming. Menilai dari pakaian yang mereka kenakan, pastilah mereka bukaan warga Kecamatan Keraton. Beberapa dari mereka malah berpakaian bagus. Sebagaimana pendatang yang berasal dari luar kota.
Anehnya, diantara beberapa kelompok yang ikut mendengarkan permainan gamelan, terdapat kelompok orang yang hanya mengenakan kain penutup bagian bawah saja. Itupun sudah sangat lusuh. Mereka adalah beberapa orang laki-laki yang sengaja memilih cara melakukan hidupnya dengan berkelana. Sembari menutup mata, mereka menundukkan kepala seakan-akan merasakan kehadiran mereka dalam dunia alam maya bersama iringan gamelan.
Tentang kekeramatan gamelan tersebut agaknya tidak disangsikan lagi. Nada yang dikeluarkan memang sungguh aneh. Bahkan terasa bergaung di dalam dada siapapun yang mendengarkannya. Memang gamelan tersebut bukan gamelan biasa. Bukan sekedar nilai estetika saya yang ditimnbulkan oleh nada-nadanya, namun lebih jauh, sebuah pesan spiritual menyentuh masyarakat.
Seakan menyedot perhatian mereka. Kontan saja sejak Kanjeng Sunan Kalijaga, banyak masyarakat yang secara suka rela mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat begitu mendengarkan dan menikmati nada-nada yang dibunyikan seiiring dengan himbauan dakwa para wali. (ais)

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • Blogosphere News
  • LinkedIn
  • Technorati

Posted in Situs.


One Response

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. Danu says

    amazing. we proud of Kanjeng Sunan. May Allah swt bless Sunan Kalijaga.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.