Diantara kesenian khas Jawa Timur ada satu lagi tari tradisional yang penuh nuansa mistis. Ternyata tidak cuma Reog Ponorogo yang dalam pagelarannya harus menggerahkan kekuatan gaib. Termasuk tarian Gandrung asal Banyuwangi. Konon para penarinya terikat oleh aturan magis.
Dibalik gemerlap pagelaran tari Gandrung yang dibawakan wanita-wanita bertubuh sintal dan langsing, ada prosesi magis yang harus dilakukan oleh setiap penari sebelum memulai pertunjukan. Ritual khusus bernuansa magis itu sebagai persiapan penari agar dapat tampil menarik dan simpatik. Sebab, penari gandrung bukan sekedar ingin dapat memuaskan penonton, di samping itu juga berharap dapat uang tip dari orang-orang yang simpati padanya.
Ada beberapa persyaratan khusus bagi seorang penari gandrung sebelum naik ke pentas. Pertama, adalah dalam soal merias, sang penari harus melakukannya sendiri tanpa bantuan petugas rias. Karena itu sebagai syarat utama seorang penari Gandrung yang sudah profesional, dia harus bisa menata diri sendiri, terutama memoles wajah agar dapat tampil sedemikian menarik.
Alat make-up yang digunakan tidak sembarangan, sebelum digunakan harus diberi mantera agar dapat membuat penari lebih percaya diri saat berada di atas panggung, dan penonton yang melihatnya akan terpesona setelah melihat wajah si penari. Prosesi ini memang cukup memakan waktu, di samping persiapan khusus yang harus dilakukan para penari.
Kadang dari persiapan ini saja, rombongan penari sebelum tampil harus merogoh kocek hingga ratusan ribu hanya untuk bisa tampil memukau penonton. Sebab selain itu masih ada persyaratan lainnya, yakni disediakannya sesaji yang terdiri dari kelapa, pisang, beras, gula, ayam dan alat kinang lengkap. Semua perlengkapan tersebut kemudian diletakkan di kamar penari rias dan tempat yang tidak jauh dari penabuh gong.
“Jangan heran kalau orang nanggap pagelaran Gandrung itu mahal, lha wong untuk persiapan tampil saja biayanya sudah besar,” ujar Marsudi, salah seorang anggota kelompok Gandrung di Banyuwangi. Tata cara persiapan lainnya, penari saat akan mengenakan kuluk (mahkota) maka terlebih dahulu membaca sebuah mantera sesuai dengan keinginannya. Itu dengan pantangan kuluk yang sudah dipakai tidak boleh dilepaskan hingga pementasan berakhir.
Mitos cara mengenakan kuluk tersebut sangat disakralkan lantaran berkaitan langsung dengan kejadian yang akan menimpa penari. Karena itu kuluk harus dirawat dengan benar dan diletakkan di tempat yang aman. Sebab, jika ada kejadian seperti kuluk terjatuh atau terlepas sebelum pagelaran berakhir akan berakibat pada penari yang mengalami musibah.
Paling tidak selama menjadi penari dalam satu pagelaran penari gandrung harus siap selama 24 jam penuh. Pasalnya, rangkaian dari ritual mulai dari prosesi persiapan hingga akhir pagelaran mereka tidak boleh melepas pakaian khasnya sebelum dibacakan mantera dari “guru” atau orang yang dianggapnya lebih pintar.
Karena itu untuk menjaga agar selama pagelaran penari tidak terganggu oleh urusan lain, semisalkan ingin buang hajat atau dirasuki rasa kantuk, mereka biasanya sudah memiliki amalan masing-masing yang diberikan oleh gurunya. Amalan tersebut akan dibaca sebelum penari naik ke pentas dan sesudah pertunjukan. (mus)
Pages
Altar (5)
Alternatif (26)
Cerita Cinta (21)
Cerita Misteri (43)
Jagad Aneh (10)
Jagad Keramat (17)
Japa Mantra (17)
Karomah (6)
Mitos (15)
News (21)
Primbon (4)
Sekse (18)
Situs (33)
Sufi (1)
Umum (2)
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck and Luke Morton requires Flash Player 9 or better.
Arsip
- May 2009 (6)
- April 2009 (6)
- March 2009 (11)
- February 2009 (12)
- January 2009 (18)
- December 2008 (29)
- November 2008 (10)
- October 2008 (11)
- July 2008 (1)
- June 2008 (3)
- May 2008 (61)
- April 2008 (54)
- March 2008 (24)
- 0 (1)









0 Responses
Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.