Skip to content


Ketika Cinta Meninggalkanku

Aku tak pernah membayangkan cintaku akan berakhir seperti ini. Jalinan cintaku dengan Fitri harus berakhir karena tidak ada restu orang tua. Hancurnya hubungan kami sempat membuatku shock dan terguncang.
Cinta ini berawal lewat lagu. Karena memang profesi Fitri sebagai penyiar radio swasta Jogjakarta. Hampir setiap hari aku mendengar suaranya dan sangat hapal dengan jadual kerjanya. Sayang lembut dan sangat menggetarkan itu membuatku ingin berkenalan dengannya.
Dengan sedikit keberanian, aku datang ke studio dan berkenalan dengannya. Fitri memang cantik luar biasa. Ternyata tak hanya suaranya yang indah tapi juga wajahnya anggun dan rupawan. Singkat cerita aku sering menemaninya kemanapun dia pergi. Bahkan ketika dia siaran aku rela menunggunya.
Setelah dua bulan pedekate, akhirnya aku menyatakan cinta padanya. Lega rasanya ketika dia mengatakan juga mencintaiku. Tak sia-sia usahaku selama ini kataku dalam hati. Dan diapun langsung kuperkenalkan pada orang tuaku sebagai seorang pacar tentunya.
Hari-hariku sangat menyenangkan bersama Fitri. Seakan aku tak akan bisa hidup tanpa dia. Dan semenjak jadian dengan Fitri, gelombang radio pun tidak pernah kuganti. Saat dia mengudara, akupun ikut mengudara dengan membayangkan wajah manisnya. Indah rasanya cinta kami dan seakan membuat iri semua orang. Tak pernah terlintas dalam benakku akan berpisah darinya.
Suatu hari, Fitri menemuiku di tempat kerjaku yang kebetulan dekat dengan tempat kostnya. “Mas Andi, kita nggak bisa terus deh kayaknya, aku nggak mau kalau orang tua Mas Andi tidak pernah merestui kita,” ucap Fitri. Tentu saja aku sangat kaget. Karena selama ini aku tak pernah mengatakan kalau orang tuaku tidak menyetujui cinta kami. Tapi aku tak tahu dari mana dia mendapat informasi itu.
Alasannya sangat klise, karena aku dan Fitri berbeda agama, itu saja. Memang sejak awal, ibuku sudah melarangnya karena jelas aku dan Fitri berbeda kepercayaan hidup.
Aku tak dapat berkata apa-apa ketika Fitri pergi meninggalkanku. Hidupku kembali linglung tanpa semangat. Rasanya, aku tak bersemangat kerja dan hampa hidupku. Aku tak bisa berbuat apa-apa, setiap hari lemas rasa tubuhku tanpa hadirnya dia di sampingku. Aku tak dapat melupakan cintanya dan segalanya tentang dia. Setelah perpisahan itu, aku sempat sakit beberapa hari.
Namun, aku tak menceritakan sebab sakitku ini pada orang tuaku. Aku hanya berharap akan dapat melupakannya. Namun sulit rasanya, karena bayangan Fitri sangat lekat di mata. Hampir sebulan aku tak pernah lagi memutar radionya. Ternyata itu tak cukup membantu melupakan dia. Sayang, aku masih sangat mencintaimu! (cerita kiriman andi, semarang)

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • Blogosphere News
  • LinkedIn
  • Technorati

Posted in Cerita Cinta.


2 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. d3j4voo999 says

    kita senasip

  2. nia says

    sedih’a,,,,,,,,,



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.