Skip to content


Hanya untuk Utami Seorang ……..

Dua puluh enam tahun sudah aku menghirup udara segar. Sudah pacaran dengan cewek sebanyak 27 kali. Ini bukan aku besar-besarkan, tapi demikian kenyataannya. Memang suatu angka yang oleh teman-temanku dianggap sebagai angka yang sangat fantastis. Tidak hanya 27 orang yang kuanggap waktu itu menjadi kebanggaan tersendiri. Bahkan dari ke-27 mantan pacarku mereka terbilang mempunyai wajah dan performance di atas rata-rata. Berbagai model cewek aku sudah merasakan. Dari yang berparas cantik, manis, body seksi, dan oke dalam bercinta, rasanya sudah komplit.
Sejak aku duduk dibangku kelas 1 SMU mulai berpetualang mencari cewek-cewek cantik. Sebut saja namaku Ardan, asli Tegal. Sewaktu aku masih SMU hobi gonta-ganti pacar belum begitu heboh.
Tapi semenjak aku kuliah di Semarang, cewek-cewek nampaknya mulai melengkapi perjalanan hidupku. Bertambah. Barangkali aku bagai sosok Arjuna yang sewaktu-waktu bisa memancarkan cahaya cinta dan membius hati cewek. Dari semua pacar-pacarku ada beberapa yang bisa dikatakan sebagai nominasi unggulan. Katakanlah mereka Eva, Lia, Ana, Yasmin, Sari dan Nunung. Mereka berenam adalah kumpulan cewek-cewek favoritku semenjak aku di Kota Semarang.
Nama Eva sempat mengguncang pikiranku berhari-hari, walaupun waktu itu aku sudah jalan bareng dengan Indah. Bukan berarti Indah tidak cantik, seksi dan romantis. Namun Eva benar-benar istimewa untukku. Bukan hanya wajahnya yang cantik anggun, tapi juga kelembutan hatinya. Dia kukenal sebagai kakak angkatanku di kampus yang berada didataran tinggi dan berhawa sejuk di Kota Semarang. Suatu hari Eva mengambil kuliah perbaikan yang kebetulan bersamaan denganku. Aku bukannya memperhatikan kuliah yang diajarkan dosen, tapi mencuri-curi kesempatan bisa mengobrol dan sesekali aku pandangi wajah manis anggun itu. Singkat cerita kami jalan bareng. Apakah Indah aku putuskan? Oo tidak. Indah masih ada dalam genggamanku. Sampai suatu saat Indah memergoki, aku dan Eva berdua-duaan mesra di pojok perpustakaan kampus. Walhasil Indah marah bukan kepalang, dan kontan, pada malam harinya aku menerima vonis putus hubungan.
Tak jadi soal, pikirku. Wong sudah ada Eva, gadis dambaanku yang aku cintai sepenuh hati. Eva adalah pacarku yang ke-15 setelah Indah. Dalam benakku, aku akan serius dalam menjalin cinta denganya. Karena sudah tidak aku ragukan lagi. Inilah sosok terbaik yang selama ini aku cari. Dialah figur yang bisa menutup petualangan cintaku selama ini.
Harapan tinggal harapan, manakala hati ini jatuh cinta kepada seorang cewek adik kelasku, Lia. Kemana rasa cintaku yang tulus kepada Eva. Semua menjadi hampar ketika aku kenal Lia. Dia nampaknya selalu membayangiku dalam setiap kesempatan. Keanggunan Eva, kemanisan Eva, kelembutan Eva, ternyata ada yang mengungguli, Yakni Lia. Walaupun Lia lebih muda dari Eva, namun sungguh luar biasa hati ini merasakannya. Singkat cerita pula, jadilah Lia menjadi pacarku tanpa terlebih dahulu aku memutuskan Eva. Pengalaman dengan Indah dulu terulang lagi. Eva harus mengetahui hubunganku dengamn Lia. Putus sudah hubunganku dengan Eva. Kini aku punyai pacar yang lebih dari semua pacarku yang terdahulu. Itu yang aku rasakan setiap mendapatkan pacar baru.
Namun apakah kesungguhanku dengan Lia bisa berjalan berkesinambungan. Masih saja ada yang mengusik aku untuk selalu mendekati cewek yang aku taksir. Sampai kapan ini akan berakhir. Pasalnya, semua cewek-cewekku hampir mempunyai nasib yang sama. Aku tembung, aku tinggalkan setelah dapat yang baru. Begitu seterusnya. Hingga aku masih sempat menghitung ketika saat ini aku menulis catatan ini, jumlah mantan pacarku sudah 27 orang. Tentu, cerita mengenai Indah, Eva, Lia hanya sebagian sampel yang aku ceritakan.
Tapi, ada sesuatu yang hendak aku ceritakan di penghujung perjalanan cintaku. Saat ini aku sudah mempunyai istri secara sah. Sebut saja namanya Utami. Namun apakah Utami-ku saat ini adalah model sosok yang lebih mengungguli dari kesemua mantan pacarku. Seperti halnya setiap pergantian pacar dari yang lama ke yang baru. Aku berani mengatakan tidak.
Keunggulan mantan-mantan pacarku seperti yang sudah aku ungkapkan sebelumnya. Mereka mempunyai spesifikasi fisik yang bisa dinilai di atas rata-rata. Namun, Utami tidaklah seperti mereka yang cantik, manis, anggun dan pandai bercinta. Aku tidak tahu mengapa di penghujung karirku dalam bercinta hanya meraih puncak dengan orang seperti Utami. Ini mungkin hukum alam untukku yang mem-playboy-kan diri semasa itu.
Walau begitu, ini juga menjadi catatan dan hikmah untukku. Memang Utami tidak cantik, memang Utami tidak seksi, memang Utami bukan cewek gaul. Tapi dialah yang bisa menghentikan aku untuk tidak gampang jatuh cinta kepada cewek lain. (catatan adi, banyumanik, semarang )

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • Blogosphere News
  • LinkedIn
  • Technorati

Posted in Cerita Cinta.


6 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. ganyanggay says

    nggilani

  2. Mas Heri says

    Hehehe, sokur

  3. ita says

    Nyaingi romo doso Djoyodiningrat, suaminya inayah

  4. West PaPuA says

    Aduh2x…. iTu Cerita aNeh… daN Bagai Mna Begitu….!!!!
    Salam Just For ” Miss ..iTa.. ”
    Call M!…
    Ale.harry@yahoo.co.id

  5. Jaguar says

    Mempunyai pacar banyak itu mudah kok, tinggal obral aja kata2 rayuan pada wanita. Jamin dari 10 orang minimal 2 yang menerima rayuan. Tapi menjaga cinta hanya kepada 1 wanita saja? Ini baru menarik dan indah. However, nice ending. When you said you wij try to stop for looking another bad adventure’s of your love. Best regards,

  6. nia says

    nie mah biasa jha x…………



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.