Begitu besarkah kesalahanku, hingga seumur hidup Maya (nama samaran) bekas istriku, tidak akan memaafkanku? Tak bolehkah aku mendapatkan kata maaf sekali saja. Ataukah aku harus menanggung dosa ini dari orang-orang yang kucintai?
Memang kuakui aku telah bersalah. Aku selingkuh dengan perempuan lain, sebut saja Iin. Sampai ia mengandung. Namun lantas digugurkan, hingga membuatnya tewas.
Kejam, itu kata yang pantas ditujukan untukku. Namun setelah semuanya berakhir, aku hanya butuh maaf dari Maya.
Tapi ia bersikukuh tidak akan memaafkanku seumur hidupnya. Kehidupan rumah tanggaku dengan Maya memang tidak harmonis, Maya dan aku menikah karena dijodohkan orang tua.
Bagaimanapun aku berusaha menghormatinya sebagai istri sahku. Memberinya nafkah lahir batin, walaupun aku tidak begitu rela.
Rasa benciku pada Maya kian bertambah saat ia hanya memberiku anak perempuan. Karena setelah lahir anak kami rahim Maya diangkat ada tumor di dalamnya. Sebagai laki-laki, aku ingin punya keturunan yang bisa meneruskan darahku, lelaki.
Kata orang Jawa kalau belum punya anak laki-laki, tidak jantan katanya. Mungkin sebab itulah, aku main api mencoba melirik perempuan lain.
Ah kalaupun aku menikah lagi pasti Maya akan terima toh dia tidak bisa memberiku anak lagi, pikirku kala itu. Nah, mulailah naluri kelelakianku cari cewek lain. Walaupun tidak kentara, tapi setiap ada perempuan cantik aku dekati.
Hingga aku bertemu dengan Iin, pegawai pabrik plastik di Solo. Dia begitu anggun, sederhana namun terlihat cerdas.
Aku dikenalkan oleh temanku yang juga bosnya. Akhirnya dengan sedikit trik-trik, Iin berhasil kugaet. Selama hampir 2 bulan aku baru ngaku kalau sudah punya istri. Aku mengaku istriku tak bisa memberi anak lagi.
Senang hatiku ketika Iin menerima keadaanku apa adanya. Bahkan dia rela dijadikan istri kedua asalkan aku bahagia.
Sungguh merupakan anugerah bagiku. Sejak saat itu Iin selalu kumanjakan dengan berbagai materi. Hingga kehamilan Iin membuatku berani mengutarakan niat pada Maya untuk menikahi Iin.
Namun apa, ternyata Maya tidak menyetujuinya. Dia marah besar, dan mengancam ingin cerai saja. Dan itulah saat awal kehancuran hidupku dan rumah tanggaku.
Iin merasa malu setelah Maya melabraknya. Dan melecehkannya setelah ia mengurus perceraian kami. Dalam kebimbangannya Iin berniat menggugurkan kandungannya. Niat itulah yang membuat nyawanya turut melayang.
Aku begitu terpukul. Iin pergi untuk selamanya dan Maya juga menceraikanku. Bahkan anakku yang baru berumur 8 tahun pun turut membenciku.
Lengkap sudah penderitaanku, aku hancur. Aku tahu sebagai pria aku harus tegar. Namun apakah aku harus tegar menghadapi nasib tragis dibuang oleh istri dan keluarga.
Dengan sisa hidupku aku kini membuka hidup baru pindah keluar Jawa menata hidupku lagi. (cerita fadli, kebon jeruk, jaksel)









Hargailah apa yang kamu miliki.
sesuatu yg bisa kmu anggap bisa membuatmu bahagia ternyata tak begitu keadaanya.
sedangkan sakit di hati keluarga kecil itu sudah permanent dan itu pasti.
saya juga sakit hati kok, krna ibu dari anak2ku telah selingkuh.