Seandainya dalam hidup ini tak dihadapkan suatu pilihan, mungkin aku tak akan pernah menyakitimu. Tetapi itulah kenyataannya. Aku harus memilih satu saja. Lalu terpaksa aku harus pergi.
Siang hari, di pelabuhan Tanjung Periuk. Aku berdiri memandang lautan lepas. Hanya diam walau dalam hati ini terasa gundah. Masih kuingat kemarin malam saat kau menangis. Dan aku tak berbuat apa-apa.
“Besok aku pergi jauh sekali dan aku tidak tahu apakah aku akan kembali nanti, ” kataku. Aku menyesal telah mengatakan itu, seharusnya aku menghiburmu dan memelukmu.
Selembar tiket jurusan Medan di tangan. Aku pandangi, aku baca dan bertanya mengapa? Tempat yang akan kudatangi itu bahkan tak pernah kuinjak. Tak ada sanak famili ataupun teman. “Haruskah aku pergi?” tanyaku berulang-ulang.
Andaikan saat itu kau ucapkan kata saktimu tentunya aku tak akan resah saat ini. Katakanlah “jangan pergi”, demi Tuhan aku tak akan pergi, akan kutemani dirimu malam itu dan kuserahkan semua apa yang seharusnya kau miliki. Tuhan tahu apa yang sebenarnya kuinginkan, dirimu saja.
Katakanlah semuanya sebelum kapal itu datang. Aku tak peduli dengan tiket ini. Semua yang kuinginkan ada pada dirimu. “Perhatian bagi seluruh penumpang, Kapal Nusa 10 menit lagi akan memasuki pelabuhan”. Datanglah wahai Dindaku tersayang, nampakkanlah dirimu di pintu pelabuhan. Jangan biarkan kapal itu membawa pergi semua impian dan harapan yang kutanamkan pada dirimu seorang.
Kucari dirimu di antara ribuan orang, seperti aku mencari kebahagiaan di antara ribuan hati. “Aku dulu mencintai dirimu,” katamu
“Tapi kau selalu tak peduli, kau tak pernah merasa,” lanjutmu
“Sampai saat ini aku masih sayang kamu,” setiap kata yang kau ucapkan seperti pisau-pisau tajam.
Kata demi kata kau tancapkan ke dalam hati ini. Sakit, perih, aku semakin terbodohi oleh rasaku sendiri. Kau benar Dinda, kau selalu benar dan aku terlalu bodoh untuk membuka mata dan hati ini.
Tangga kapal Nusa sudah diturunkan, satu persatu penumpang naik. Aku masih tetap berdiri menantimu. Biarlah aku menjadi penumpang yang paling akhir menaiki tangga ini.
Memang pada akhirnya aku yang terakhir. Tangga yang kuinjak bagaikan pengakuan dosa. Semakin tinggi aku naik, semakin berat pengakuan dosa yang terbilang.
Perlahan sekali kapal tunda menyeret membawa Nusa menuju batas pelabuhan, semakin jauh pula harapanku tertinggal di kotamu.
Selamat tinggal Dinda sayangku, aku pastikan tak ada wanita lain yang bisa menggantikanmu. Telah kutanamkan dirimu di sisi hati yang terbaik. Selamanya sampai ajal ini menjemput. Dirimu menjadi bayangan yang selalu setia menemaniku.
Jika aku harus memilih, hidup dengan cintamu atau pergi tanpa dirimu. Aku akan memilih pergi dengan membawa cintamu. (kiriman ridho, kebayoran lama, jaksel )










One Response
Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.
cerita cinta yang bagus baget…. klo bisa tolong d kirimin lagi ya…. oh ya salam kenal aku jeffrey d bogor. dan ketertarikan aku dalam membaca cerita cinta karena,aku mau mencari,mengetahui d mana
cinta/apakah arti nya cinta..?