Skip to content


Pengusir Teluh dan Percepat Jodoh

** Kidung Rumekso Ing Wengi

Bukan rahasia lagi jika beberapa karya sastra yang diciptakan orang-orang Jawa dahulu memiliki nilai mistis yang amat tinggi. Karya sastra yang punya kelebihan beragam ini berbentuk kidung atau syairan. Salah satunya adalah kidung Rumekso Ing Wengi. Bagaimana bunyi syair mistis itu?
Tembang ini sangat terkenal pada zaman dahulu. Konon, kidung itu diciptakan oleh Sunan Kalijaga sehabis melakukan sholat malam. Kala itu, kidung ini cukup kondang di belantara tanah Jawa. Sering dinyanyikan masyarakat yang tinggal di pelosok pedesaan, ketika ada pertunjukan ketoprak, wayang kulit, dan hiburan tradisional lain.
Bahkan, para peronda ketika menyaksikan malam yang terlalu sunyi akan menyanyikan kidung yang mampu menentramkan pikiran ini. Hingga orang yang mendengarkan akan terhanyut dalam buaian kelelapan tidur. Sedang pada bait pertama kidung ini menjadi amat terkenal karena berisi yang bernilai mantra tolak balak.
Sedangkan bait selanjutnya yang berumlah delapan jarang dinyanyikan karena dianggap terlalu panjang. Bukti bait pertama kidung tersebut sebagai berikut; “Ana kidung rumeksa ing wengi, Teguh hayu huputa ing lar, Luputa bilahi Jin setan datan purun, paneluhan tan ana wani miwah panggawe ala, Gumaning wong luput, Geni atemah tirta, Maling adoh tan ana ngarah ing mami, Guna duduk pan sirna
Artinya; Ada nyanyian yang menjaga di malam hari, Kukuh selamat terbebas dari penyakit, Terbebas dari semua malapetaka, Jin setan jahat pun tidak berkenan, Guna-guna pun tidak ada yang berani, Juga perbuatan jahat ilmunya orang yang bersalah, Api dan juga air, Pencuri pun jah tak ada yang menuju padauku, Guna-guna sakti pun lenyap.
Berdasarkan orang-orang tua dahulu, inti laku pembacaan Kidung Rumeksa Ing Wengi bertujuan agar orang-orang senantiasa mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian terhindar dari kutukan dan malapetaka yang lebih dasyat. Ada beberapa isi yang tersurat di dalam kidung itu. Diantaranya, 1) Penolak balak di malam hari, seperti teluh, santet, duduk, ngama, maling, penggawe ala dan semua malapetaka. 2) Pembebasan semua benda. 3) Penyembuhan penyakit, termasuk gila. 4) Pembebasan pagebluk. 5) Pemercepat jodoh bagi perawan tua, 6) Menang dalam perang. 7) Memperlancar cita-cita luhur dan mulai.
Napas keislaman tampak mewarnai kidung Rumeksa Ing Wengi mulai bait ketiga dan seterusnya dengan menyebut asma Allah, malaikat, Nabi Rasul, dan nama seorang wali, Sunan Kalijaga. Jadi secara tematik kidung itu dilatari oleh napas keislaman.
Ini cocok dengan peringatan yang diberikan oleh pujangga terkenal Ronggowarsito. “Purwaning kang sinawung memanis, anedaknya serat kekidungan, lepata tulah sarike, ngalap berkahi pun, Kanjeng Nabi lan para wali, poma sagung lan maca, den samya tumayuh ing lair batin sedyakna, sata suci, daraponira atut asih, nugrahaning Pangeran”. Biasanya, kidung ini dilagukan dalam irama Dandanggula. (ais)

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • Blogosphere News
  • LinkedIn
  • Technorati

Posted in Japa Mantra.


5 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. denis says

    :roll: apakah ilmu seperti untuk mendapatkan judoh denga cepat melalui hal-hal mistik tidak membuat kita jauh dri Tuhan dan apakah hal semacam itu bisa diterima dihadapan ALLAH.

  2. Fadli says

    Kita sebagai manusia hanya bìsa berusaha/berikhtiar .ALLAH SWT.yang menentukan. Berpasrah dirilah.dan berusaha.

  3. Aisy says

    malam hari terasa terjaga ketika kita melaksanakan sholat sunnah malam / tahajud / sejenisnya.
    emang bener . itu kan buatnya sehabis sholat malam :)
    subhanallah .

  4. clara says

    Lagy nyari jodoh nih yang bisa puasin aqu di ranjang
    081310128545 dan 288f9a52 :)

  5. clara says

    Pengennnnnnn,,,,,,,,,,,,,
    081310128545 dan 288f9a52. Invite ya



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.