Skip to content


Kekuatan Mistis Kaligrafi Jawa Gusti Pangeran Haryo

Diantara seniman lukis yang dikenal keluarga keraton Surakarta, nama Gusti Pangeran Haryo sudah tidak asing lagi. Seniman kawakan asli Solo ini memiliki keistimewaan yang luar biasa. Dia mahir melukis kaligrafi berbahasa Jawa yang tidak semua pelukis mampu melakukannya dengan sempurna. Ternyata lukisan Gusti Pangeran Haryo tidak sekedar menampilkan keunikan dan keindahan nilai artistik. Namun, terdapat pancaran mistis dari tayangan lukisannya. Apa saja?
Berbekal dari penguasaan tulisan bahasa Jawa dan tulisan bahasa Arab, Gusti Pangeran Haryo mengaktualitaskan kemampuannya dengan menuangkan ide liarnya melalui seni melukis kaligrafi berbahasa Jawa. Kehandalan yang sudah puluhan tahun ditekuni Gusti Pangeran Haryo ini, pada awalnya dia tidak hanya menguasai tulisan Jawa. Tulisan kaligrafi dengan menggunakan bahasa Arab dikuasai melalui banyak belajar sejak kecil.
Hasilnya, lukisan-lukisan karya Ketua Sanggar Karti Budoyo Surakarta ini sekarang banyak dikoleksi keraton Solo. Begitu pula diantara keluarga keraton Solo secara khusus memesan lukisan-lukisan yang identitas budaya Jawa terlihat sangat kental. Gusti Pangeran Haryo tentunya mendalami seni lebih tergugah untuk melestarikan budaya Jawa. Sayangnya, karya budaya yang dia hasilkan belum sepenuhnya diterima oleh oleh kalangan muda sekarang ini.
Rata-rata masih menganggap lukisan nyeleneh Pangeran Haryo belum bisa dikatakan memiliki aliran yang sesuai dengan tuntutan zaman sekarang. Adapun di dalam lukisan Pangeran Haryo menyimpan energi kekuatan tersendiri bagi siapa yang mampu menangkap sinyal-sinyal yang dia gambarkan dalam lukisan. Seperti ada kekuatan mistis yang tentunya manfaat yang dihasilkan sangat baik bagi yang mengamati lukisan ini secara seksama.
“Lewat behavior yang baik tentu dengan sendirinya akan mampu membuat suatu karya lukis mempengaruhi imajinasi bagi yang melihatnya. Seperti apa yang kami tuangkan ini,” ujar Pangeran Haryo, belum lama ini. Kesan mistis yang memancar itu, ternyata dimunculkan dari energi tubuh dan pikiran yang keluar dari diri Pengeran Haryo sewaktu melukis. Karena itu, sebelum melukis dia melakukan ritual secara khusus untuk mempertemukan kehendak raga, batin, dan pikiran melalui perasaan.
“Ada beberapa persiapan yang saya lakukan sebelum melukis,” tuturnya. Persiapan awal yang dilakukan tidak ubahnya seperti pelukis kebanyakan, dia mencoba terlebih dahulu tulisannya dengan menuangkan di atas kertas putih. Itu dilakukan agar nantinya tidak mempengaruhi konsentrasi pikirannya ketika sudah dituangkan ke dalam kanvas. Tahapan persiapan lainnya dengan belajar menahan kesabaran dan ketenangan batin.
Tahapan ini dilanjutkan dengan melakukan pemusatan pikiran (meditasi) yang diiringi dengan jalan berpuasa selama 1 minggu penuh. Dia selama menjalankan puasa sekaligus meluangkan diri untuk tirakatan. Dengan begitu, menurut Pangeran Haryo, pancaran sinar kekuatan jiwa yang berasal dari Illahi akan masuk ke dalam relung hati. Ternyata persiapan yang dia lakukan tidak ubahnya apa yang dilakukan empu sebelum membuat keris.
Macam-macam lukisan yang dituangkan dalam kanvas, berupa gambar atau semacam perumpamaan yang memancarkan penyesalan, persatuan dan persamaan. Di samping itu juga pancaran itu, nantinya akan mempengaruhi pikiran manusia yang menikmati atau melihat karya lukisan itu. “Lewat gambar-gambar itu bisa membuat hati seseorang yang semula bertingkah laku jelek berubah andap asor. Begitu melihat lukisan kaligrafi tersebut,” ujarnya.
Secara mistis lewat pancaran lukisan kaligrafi Jawa, lanjut Pangeran Haryo, dengan sendirinya pemberhati tersebut bisa duduk bersimpuh di bawah lukisan. Itu sambil menyesali perbuatan maksiat maupun kejahatan yang pernah dilakukan. Termasuk apa yang kita munculkan dalam bentuk sebuah karya ini, secara tidak langsung akan mampu menjalin persamaan dan persaudaraan antar umat.
Gagasan hingga melahirkan lukisan langka ini, menurut Pangeran Haryo, berawal dari perkembangan bahasa Sangsekerta yang akhirnya menjadi budaya Jawa kuno. Dari dalam keseharian itu dapat mewarnai bentuk-bentuk bahasa Jawa, Bali dan juga Jawa Adisuko (Honocoroko, red). “Awal era Adisuko ini sebenarnya berorientasi pada pengaruh Kaligrafi Arab. Nah, dari situ saya menangkap gagasan itu,” tutur Pangeran Haryo. (ais)

Posted in Jagad Keramat.

0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

Some HTML is OK

(required)

(required, but never shared)

or, reply to this post via trackback.