Skip to content


Ritual Merentangkan Tangan di Makam Bale Kambang

makam bale kambang jepara  Makam Mbah Hasan Anwar atau lebih dikenal sebutan Makam Bale Kambang di Desa Jinggotan, Kecamatan Kembang, Jepara selain menyimpan mistis juga keunikan. Di makam ini, berlangsung ritual unik bagi orang yang menjalani laku. Yakni ritual pengepalan badan.
Tradisi ini, seperti diungkapkan Juyatno, yang selama ini dikenal sebagai salah seorang tokoh masyarakat di desa tersebut, adalah sebuah ritual, di mana pengunjung yang mempunyai keinginan, merentangkan tangan sepanjang-panjangnya di antara 2 buah batu yang ada di lokasi itu. Jika memang tangan orang tersebut mampu mencapai kedua batu tersebut, maka keinginannya bakal terlaksana.
Jangan heran, jika banyak orang yang berduyun-duyun mengunjungi lokasi itu. Sayang, kondisi tersebut tak dibarengi dengan pembenahan sarana dan prasarana.
Menurut Juyatno, keluhan yang seringkali dikemukakan para pengunjung kepada dirinya, adalah sulitnya kendaraan, terutama mobil untuk mencapai lokasi makam. ”Lokasi makam dipisahkan oleh sungai yang besar dan lebar. Sedangkan penghubungnya hanyalah sebuah jembatan bambu yang sangat tidak layak,” ungkapnya.
Kebanyakan tamu, memang datang secara berombongan. Mereka, bahkan terpaksa harus menitipkan mobil yang mereka bawa, di rumah-rumah penduduk sekitar. Biasanya, dititipkan di kediamanan sang juru kunci.
Para pengunjung yang menggunakan sepeda motor, juga tidak bisa mengendarainya dengan leluasa. Setiap kali harus melintasi jembatan tersebut, salah seorang penumpang harus turun karena badan jembatan bambu itu tidak kuat menahan beban berlebih. ”Kalau dipaksakan terus, kami takut jika jembatan yang ada sekarang ini tidak kuat lagi,” jelas Juyatno.
Sebenarnya, baik pihak pengelola makam maupun desa, berharap agar ada pihak yang bisa membantu mengatasi permasalahan tersebut. Kalau misalnya jembatan permanen yang selama ini mereka inginkan tercapai, maka hal itu dengan otomatis merubah infrastruktur di lokasi tersebut.
Para penduduk, bisa mengambil manfaat, misalnya dengan mendirikan lokasi parkir kendaraan bagi para pengunjung, di mana keuntungannya nanti akan bisa dimanfaatkan bagi kemajuan desa.
Mahasiswa Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) yang beberapa waktu lalu mengadakan kuliah kerja nyata (KKN) di desa setempat, sebenarnya sudah pernah mengusulkan kepada pemkab, agar memberi bantuan pembuatan jembatan permanen.
Nurfaik, selaku koordinator desa, juga selalu berupaya agar bantuan itu bisa berhasil. ”Kami juga berharap agar pemkab bisa membantu para penduduk sini dengan membantu membangunkan jembatan permanen tersebut,” ujarnya. (mus/mtr)

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • Blogosphere News
  • LinkedIn
  • Technorati

Posted in Situs.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.