Skip to content


Dinda Ayu, Maafkan Aku….

Malam itu di bulan September.
“Dinda, aku ingin minta maaf, ” kataku pada cewek di sebelahku. “ Maafkan aku yang selama ini telah menyakiti dan membuatmu susah. Aku telah memberimu kenangan buruk. Aku pergi disaat Dinda membutuhkan aku. Dinda telah menyerahkan semuanya, hati, perasaan bahkan tubuhmu”.Kau hanya diam matamu menerawang seakan menerobos masa silam. Malam semakin gelap seperti sisi hatiku.
Namaku Manggala, 17 September 1986. Aku menulis di sini bukan karena kisahku menarik, tetapi sejujurnya ini adalah permintaan maafku untuk seseorang. Dinda Ayu, nama yang tak asing lagi bagiku namun berat rasanya aku mengakui nama itu pernah ada di hati dan hidupku. Tapi malam ini entah sudah berapakali kusebut namamu, adakah kau di sana juga ingat tentang aku?
Maafkan aku yang selama ini menjauh darimu, bukan karena aku benci atau tak sayang lagi. Justru karena aku mencintaimu kulakukan itu semua untuk dirimu, bukan aku. Ini bukanlah pembelaan diri atas salahku, walaupun kau telah memaafkan aku, hati ini tetap tak tenang. Biarlah pembaca yang menilai itu semua.
Sejak awal kita bertemu, tidak ada kata-kata yang terucap di antara kita. Mungkin kita terlalu egois untuk mengakui adanya rasa yang hadir di antara kita atau kita terlalu sempurna berpura-pura. Sampai akhirnya Dinda mengirim surat padaku dan kau tulis kalau dirimu selalu menyimpan rindu. Dan diakhir suratmu kau katakan “ Mas, Dinda sayang sama Mas dan aku ingin tahu apa Mas juga sayang sama Dinda”.
Masih ingatkah Dinda apa jawabanku? Tidak, kau tidak akan pernah ingat bahkan kau pun tak akan pernah mendengarnya sebab aku tak mampu menjawabnya sampai saat ini. Sejujurnya saat itu aku ingin memberi jawaban padamu, Dinda.
Aku bukanlah lelaki yang seperti kau harapkan, kau belum mengenal masa laluku bahwa aku seorang lelaki yang melacurkan cinta. Tapi itu semua tidak bisa kukatakan padamu, aku tak ingin menyakiti hatimu. Waktu berjalan dan kau semakin sayang padaku, dan akupun makin tenggelam dalam kebohongan. Kau curahkan semua perhatian dan rasamu untuk membuktikan bahwa kau memang mencintai aku.
Ingatkah kau di kala sore hari di tepi Danau Kintamani? Seperti biasanya kita tidak saling bicara. Kita biarkan diri kita dipeluk keheningan senja. Aku memeluk tubuhmu erat dan kucium harum setiap helai rambutmu. Dan akhir kecupan kecil di pipi kananmu, kau hanya tersenyum menerima. Kitapun semakin hanyut terseret arus emosi.
Malam belum berakhir.
“Aku pergi karena aku tak ingin membuatmu lebih menderita, aku tak ingin kita terperangkap emosi yang tak jelas arahnya, “ kataku hati-hati. Dan kau mulai berkaca-kaca, ingin aku memelukmu dan meredakan kesedihanmu namun tubuh ini rasanya kaku tak berdaya.
“Dinda, aku telah berjanji pada diriku sendiri, aku akan selalu berada di sampingmu mulai sekarang ini. Aku akan bahagia jika dirimu bahagia,” ujarku menahan rasa.
Kau sepertinya ingin mengelak, mengalihkan semua pembicaraan. “Mas ngomong apa sih, sepertinya besok Mas sudah nggak ada?” Ya aku memang akan pergi Dinda, batinku.
“Sebelum semuanya terlambat sebab aku tak tahu apa yang terjadi esok hari. Dan aku tak ingin membuang waktu yang ada,” jelasku. Kuakhiri pertemuan ini dengan kecupan di dahi sambil berbisik “Aku mencintaimu, Dinda. Sampai kapanpun.”
Dengan langkah kecil aku meninggalkan dirimu. Dalam hatiku aku berkata kau sangat baik dan mau mengerti sedangkan aku ini apa? Secuil kotoranpun di mata orang lain lebih berharga daripada aku. (cerita kiriman manggala, kaliurang, yogya)

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • Blogosphere News
  • LinkedIn
  • Technorati

Posted in Cerita Cinta.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.