Skip to content


Ajian Kantraman Mengharmoniskan Pasutri

Problem rumah tangga saat ini penyebabnya makin komplek. Masalah yang ditimbulkan datang silih berganti. Kadang pihak ketiga yang merepotkan sampai perselisihan dua hati yang sulit disatukan. Semua itu sebenarnya hanyalah cobaan. Tergantung kuat tidaknya seseorang menghadapinya.
Boleh percaya atau tidak. Keberadaan ajian meski sulit dinalar tapi pada dasarnya ilmu halus ini bisa dirasakan manfaatnya. Secara tidak langsung begitu penguasai ajian orang bisa merasakan perasaannya lebih tenang dan tentram. Entah itu lantaran tersugesti oleh kemampuan yang dia punyai. Ataukah karena energi alam yang terkumpul dari mantera dan doa dalam dirinya bereaksi.
Manfaat ajian sendiri akan banyak digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan oleh orang yang menguasai. Paling tidak dengan ajian seseorang bisa punya pegangan. Dan, itu bisa digunakan sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan. Namun, pantangan-pantangan yang tidak boleh dilanggar sebenarnya merupakan godaan terberat bagi pelaku agar tidak disalahgunakan.
“Bisa jadi sakit gila kalau dia tidak bisa mengendalikan ajian yang dimiliki. Sebab, kadang orang merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain karena memiliki ajian tertentu,” ujar spritualis asal Semarang Ki Fatahillah kepada misterionline kemarin. Dia mengingatkan dari macam-macam ajian ada yang memiliki sisi buruk dan kebaikkan. Ada pula yang tujuannya semata untuk kebaikan.
Diantara ajian untuk kebaikan, Ki Fatah sebutkan, adalah Ajian Kantraman Omah yang tujuan hanya untuk menjaga keuntuhan rumah tangga. Selain masih ada lagi ajian dengan daya guna yang sama, yakni Ajian Kantraman. Masing-masing ajian ini meski sawab yang dipancarkan sama, hanya beda proses ritual dan mantera-mantera yang dilafalkan.
Seperti Ajian Kantraman Omah ritual yang harus dijalani dengan puasa mutih selama 6 hari. Yang kemudian disambung dengan melakoni puasa ngebleng pada hari ketujuh selama 1 hari. Sebagaimana prosesi ajian-ajian lainnya sebelum melakoni ritual harus lebih dulu mandi keramas. Sementara mantera yang harus dilafalkan bunyinya berikut ini;
Cing, cing, kalicing. Bojone maling duwe bayi. Tatune arang kranjang. Temulak bali mangetan. Bali mengulun, bali mengidul, bali mangalor. “Terpenting dari laku penguasaan ajian ini adalah doa dan mohon perlindungan yang ditujukan pada Allah semata. Jangan sampai berbuat syirik hanya karena sebuah ajian,” tutur pengasuh rubrik Tabir Mimpi di harian METEOR Jateng dan DIJ ini. (ais)

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • Blogosphere News
  • LinkedIn
  • Technorati

Posted in Japa Mantra.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.