Skip to content


Pethak Umpet Diganggu Genderuwo

Kejadian ini saya alami waktu masih kecil. Kalau tidak salah, waktu itu saya masih kelas empat SD, di sebuah kampung yang jauh dari kota besar. Yakni, di desa Sendangan, Gubuk, Grobogan, Jawa Tengah.
Di desa, bermain tidak terbatas hanya pada siang hari. Kendati pun pada masa kanak-kanak. Ada permainan yang disebut jelungan, atau di tempat lain disebut jethungan. Permainan ini terdiri dari dua kelompok, yang masing-masing kelompok tidak dibatasi anggotanya, tetapi harus sama dengan kelompok lawan.
Aturan mainnya, kemenangan diraih jika benda yang dijaga oleh kelompok lawan bisa disentuh, maka kelompok yang berhasil menyentuh tersebut dinyatakan sebagai pemenang.
Mengenai cara bagaimana ia bisa mencapai daerah kekuasan lawan, juga bebas. Waktu itu, Armen termasuk salah satu spion yang bertugas menguasai kawasan lawan. Saat itu sekitar pukul 21.00 Wib. Terang bulan sangat membantu untuk mencari jalan guna menyusup ke daerah lawan. Waktu itu, saya menyusuri pinggiran sungai, yang ditumbuhi deretan rerumpunan pohon bambu.
Pelan tetapi pasti, kurang lebih satu jam saya mengendap-endap mencari jalan yang “aman” dari penglihatan lawan. Ketika saya melewati rimbunan bambu itu, tak terbersit sedikit pun pikiran bakal ada apa-apa. Karena yang terlintas di pikiran adalah bagaimana sampai dan menguasai daerah kekuasan lawan, kemudian menyentuh pohon yang dijaga anggota lawan.
Tak ada semilir angin pun malam itu. Bulan juga bersinar sangat terang. Tiba-tiba, tepat di atas saya, terdengar suara gemuruh. Spontan saya lihat ke atas, karena bunyi itu mirip dengan pohon yang dihentak-hentakkan secara keras oleh sebuah tenaga yang besar.
Waktu itu, saya sempat berpikir, rimbunan pohon itu ditiup angin. Tetapi, saya lihat rimbunan lain sama sekali tak bergoyang. Dan memang tak ada angin.
Ketika sekali lagi saya lihat ke atas, rimbunan pohon bambu, yang tepat di atas kela saya itu, ternyata masih gemuruh. Saya sempat berpikir, ini mungkin genderuwo. Tetapi, tak satu pun makhluk terlihat di atas. Sementara rimbunan daun masih terus bergoyang.
Beruntung, waktu itu keberanian saya lebih besar. Saya terus menatap ke atas sambil berteriak, “He, sapa kowe. Terus saya menatap ke atas sampai suara gemuruh beradunya dedaunan dan dahan itu berhenti dengan sendirinya.
Ketika saya mendekati daerah kekuasan lawan yang sedang saya tuju tadi, ternyata permainan sudah selesai. Ketika saya ceritakan ke teman-teman, mereka ketakutan dan menduga, itu adalah genderuwo. Barulah kemudian sekujur tubuh saya menggingil ketakutan. Sampai sekarang bulu kuduk jadi merinding jika mengingat kejadian itu. (diceritakan supriyadi, jalan perintis kemerdekaan semarang)

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • Blogosphere News
  • LinkedIn
  • Technorati

Posted in Cerita Misteri.


3 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. m3nuk says

    idiiih…brani banget seeh, lo dulu kecilnya pasti bandel yee..

  2. ruth says

    ihserem amet sih!

  3. aprilliza says

    hahh.. Berani amat ??



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.