Skip to content


Firasat Empat Anak Kecil Berlarian

Terlihat 4 anak kecil berlarian diantara keramaian. Ada orang-orang yang duduk dibangku panjang berderet. Sebagian orang-orang itu menyiratkan raut muka suram. Mereka yang duduk di tempat itu sepertinya sedang tertimpa kesusahan. Ataukah salah seorang kerabatnya ada yang sedang tertimpa malapetaka?
Yach, seorang pria berusia sekitar 39 tahun barusan masuk ruang operasi. Kondisinya terluka parah akibat kecelakaan hebat yang menimpanya. Di luar ruang operasi itu, terlihat seorang ibu menangis meraung-raung. Untung wanita muda disampingnya dapat menenangkan. Namun, ratapan wanita itu nampaknya belum cukup mengalihkan perhatian orang-orang di sekitarnya.
Jangankan menoleh, mendengar pun rasanya tidak. Sepertinya orang-orang yang duduk berderet di samping mereka juga sama-sama menunggu nestapa ataukah kepedihan.
Malam semakin tenggelam dalam kegelapan. Jam dinding besar yang menempel di dinding depan nampak menunjukkan waktu pukul 02.00. Orang-orang semakin tenggelam dalam kebisuan. Keramaian telah berkurang sejak beberapa jam lalu. Bahkan tukang parkir yang kalang kabut sore tadi kini sudah terpekur di bangkunya.
Namun seolah-olah tidak mempedulikan orang-orang di sekelilingnya, empat anak itu semakin bersemangat berkejar-kejaran. Oouuww.. salah seorang bersembunyi dibalik punggung sang wanita.
Seorang lagi nampak kebingungan mencari. Naik ke punggung lelaki sambil matanya menyapu seluruh ruangan. Tentu saja dia tidak menemukan karena anak yang dicarinya sudah berpindah di bawah rok wanita muda disampingnya. Namun, si anak dengan cepat turun dan Blaaa…., akhirnya tertangkap ! Derai tawa menggema di seluruh sudut ruangan.
Kerasnya derai tawa itu merayap ke segenap ruangan hingga ke sudut pintu di pojok ruangan. Masuk ke dalam celah pintu dan hinggap ke telinga. Sejenak lelaki yang semula tertidur pulas tergeragap bangun. Sementara lubang hidungnya nampak bergerak-gerak. Hhhmmmmm… bau kamboja ! Lelaki itu bergegas mengatur posisi duduknya.
Kemeja putih-putihnya ditariknya ke bawah. Detik selanjutnya bola matanya menatap lurus kedepan. Seorang pria terbalut kain kafan di sekujur tubuhnya masih tergolek tak bergerak. Keceriaan anak-anak, apakah pertanda kematian bagi orang itu? batin seorang dokter muda yang sejak tadi memperhatikan keempat bocah yang sedang bermain riang.
Siang tadi, pria orang itu datang dalam keadaan sekarat. Nyaris tewas. Separuh dagingnya terkelupas seperti irisan ikan bandeng, membuat sebagian tulang paru-parunya nampak terlihat. Hantaman truk yang mengenai dadanya pastilah sedemikian dahsyat hingga membuat tubuhnya terbelah dua.
Namun aneh, lelaki itu masih bernyawa! Bahkan setengah jam tergeletak di tepi jalan, orang itu masih bergerak-gerak. Dadanya naik turun tersenggal-senggal. Orang itu tentu sangat kesakitan. Mobil-mobil yang bersliweran sejak tadi seperti tidak mempedulikannya. Beberapa tukang becak dan tukang parkir yang semula hanya terpaku dari kejauhan terpaksa bertindak. Lima orang mengangkatnya ramai-ramai. Menaikkannya ke atas becak dan melarikannya ke rumah sakit ini.
Di rumah sakit, dua orang diantaranya harus mendapatkan perawatan. Mereka ikut klenger tidak kuat menahan nyalinya. Dari atas jok becak, lelaki itu langsung digotong menuju ruang gawat darurat. Para tukang becak terpaksa menggotongnya sendiri karena perawat yang jaga di depan tidak bergerak semilipun menyaksikan pemandangan itu.
Sang dokter segera bertindak. Beberapa perawat langsung dikerahkan. Demikian cekatan mereka hingga akhirnya berhasil menenangkan lelaki malang itu. Satu jam kemudian lelaki itu sudah berubah wujud seperti mumi. Ya, mumi yang tergolek tidak bergerak. Hanya seiris lubang di matanya yang masih tersisa dari balutan kain kafan.
Hiiiiiiiiiiiiiii………, derai tawa kembali memecah keheningan. Kali ini suaranya begitu dekat. Sangat dekat hingga rasanya keluar dari tepi daun telinga. Sang dokter kembali tergeragap. Matanya terbelalak ke depan. Delapan pasang mata nampak sudah menunggu didepannya.
Anak-anak itu, yang sudah lama dikenalnya sejak dia bertugas di ruangan gawat darurat kembali menampakkan diri di depannya. Matanya bulat namun sayu. Kulitnya pucat pasi. Ohh…kalian lagi. Firasat apa lagi yang kalian bawa kali ini ?, batinnya lagi seraya memikirkan pria malang itu.
Belum sampai pertanyaannya selesai anak-anak itu sudah berbalik tubuh. Hhhhiiiiii……, lalu mereka kembali berlari. Kearah lelaki malang itu dan hilang dalam bayang-bayang yang menembus tubuh lelaki malang itu. Detik berikutnya, bau wangi bunga kuburan menyebar ke seluruh ruangan. Suasana semakin dingin. Menyayat.
Sang dokter, mestinya dia kembali tertidur. Namun matanya tidak bisa terpejam. Dia tetap terduduk di mejanya. Meja yang terletak hanya beberapa meter dari tempat pembaringan lelaki itu.
Kenapa saya bekerja di tempat seperti ini ?, batinnya. Tempat nyawa-nyawa tercabut dari raganya. Diiringi erangan kesakitan yang menyayat-nyayat. Belum lagi orang-orang yang menangis histeris. Sebelumnya, terlihat olehnya dua lelaki berjubah. Mereka memaksa. Dari telapak kaki mereka terus menarik-narik.
Hingga akhirnya keluar sesosok bayangan.
Bayangan yang kemudian digelandang terbang dua lelaki berjubah. Begini rupakah nyawa yang tercabut dari raganya ? Sedang saya. Bagian saya selalu tidak menyenangkan. Begitu sulit mencari kata-kata untuk berbicara dengan mereka. “Maaf nyonya. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin namun Tuhan menghendaki lain….” Saya belum menyelesaikan kalimat, tangis mereka itu sudah meledak. Bersyukur jika dia tidak pingsan. Lalu apa yang harus saya lakukan ?
“Maaf nyonya, saya bukan pabrik nyawa yang bisa menyuntik nyawa kedalam tubuh suami nyonya. Tapi mungkin nyonya tidak mau tahu…,” katanya lagi.
Setelah kata-kata itu selesai diucap ia kembali duduk tercenung di pingir meja. Membisu sambil mengiringi kepergian mayat yang digeladak keluar. Suasana kembali sepi, lenggang. Sejurus kemudian terdengar olehnya suara cekikikan empat anak kecil bermain-main di ruang operasi. Kali ini, tawanya terdengar semakin kencang.
“Ada berapa lagi orang yang akan mati di sini ?,” tanyanya sambil memandangi bayangan keempat bocah yang merupakan firasat akan datangnya kematian itu. Bocah itu tidak menjawab, memperhatikan pun tidak. Mereka semakin asyik dengan canda tawanya. Bahkan, terlihat menari-nari sambil bernyanyi-nyanyi riang. Sepertinya akan ada peristiwa besar pagi ini, bisik sang dokter.
***

Waktu merayap hingga tak terasa telah menginjak pagi. Mata sang dokter masih setengah terbuka. Posisi duduknya masih sama seperti lima jam yang lalu. Mungkin dokter itu telah tertidur dalam duduknya. Namun tidur sang dokter tidak akan lebih lama lagi. Karena sebentar lagi isakan tangis akan kembali memecah ruangan. Tangis yang sama dan yang lain.
Benar saja, dari balik pintu seorang nyonya menyeruak masuk. Begitu tergesa-gesa, sampai-sampai gelang-gelangnya bergerincingan mengiringi langkahnya.
“Gimana dokter. suami saya sudah siuman ?”
Sejenak mata sang dokter bergeser ke wajah nyonya itu. Wooww.. meski sudah cukup umur, wanita itu masih menyiratkan kecantikannya. Tubuhnya terlihat sangat terawat hingga tak ada satupun lekukan yang cacad. Matanya itu, tentunya wanita itu sangat keibuan. Dan lehernya, kontes kecantikan pasti akan memberinya nilai sembilan plus. Namun sayang, wanita itu hadir dalam kedukaan. Nampak sekali wajah cantiknya memudar terbalut duka. Sang dokter kembali tersadar dari lamunannya.
Apa yang harus saya katakan ? Bagaimana saya harus menyusun kata-kata ? Pikirannya kembali berkecamuk. Rasanya saya tidak sanggup melakukannya. Lalu kepala sang dokter tertunduk.
“Apa dokter, suami saya meninggal ? huuuuu….huuuu….huuuu…………….” ledakan tangis kembali memecah ruangan. Nyonya itu langsung menghambur ke pundak sang dokter. Lalu memeluknya.
“Dokter tolong saya. Gimana saya harus menjalani hidup tanpa suami saya. Dokter, saya tidak mampu hidup seorang diri, hhhuuuuuuu….” tangis nyonya itu berderai diatas pundak sang dokter.
“Sudahlah nyonya, saya antarkan nyonya pulang. Lupakan saja. Semua ini sudah takdir Tuhan,” sang dokter berusaha menenangkan. Dengan kesabaran yang cukup terlatih nyonya itu dipapahnya keluar. Masuk kedalam mobil. Sejurus kemudian mobil sedan BMW metalik sudah merayap keluar dari gerbang rumah sakit.
Tidak ada yang tahu kemana mereka pergi. Beberapa perawat yang dipamiti sang dokter mengatakan sang dokter mengantarkan pulang sang nyonya yang sedang berduka. Sekedar untuk menunjukkan rasa ikut berduka pada nyonya malang itu. Namun kenapa hingga sore sang dokter belum muncul ? Bahkan sudah seminggu sang dokter belum muncul. Tidak ada yang tahu kemana dokter itu pergi. Tukang suruh yang mencari ke alamatnya pun gagal menemukannya. Rumah yang dikontrak sejak kepindahannya lima bulan yang lalu itu ternyata milik juragan sapi. Sang dokter memang pernah tinggal di tempat itu. Namun tidak ada orang yang tahu persis keberadaannya. Sang dokter biasanya hanya seminggu sekali nongol. Kadang-kadang malah tidak muncul berhari-hari.
Lalu kemana sang dokter pergi ? Ruangan tempatnya sudah ditempati dokter lain. Terpaksa dokter yang baru belajar mengenal komunitas barunya. Termasuk anak-anak kecil yang berlarian di emperan ruangan. Yang terkadang masuk kedalam ruangan dan berputar mengelilingi sang dokter baru sambil tertawa cekikikan untuk kemudian berlari menubruk pasiennya. “Celaka, orang ini akan mati,” begitu guman dokter baru itu setiap kali tercenung melihat sang anak hilang menembus tubuh pasiennya yang tergolek sekarat. “Bagaimana saya harus mengatakan pada keluarganya,” dokter baru itu meratap sendiri.
Waktu berputar, tahun silih berganti. Namun belum genap empat hitungan tahun, sang dokter baru itu juga menghilang pergi. Tidak ada yang mengetahuinya. Hanya seorang tukang becak yang katanya sempat sekali melihatnya. “Dia khan tukang sate yang berjualan keliling kampung,” kata tukang becak itu. Tentu saja tidak ada yang percaya omongan tukang becak pemabuk itu. (wan).

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • Blogosphere News
  • LinkedIn
  • Technorati

Posted in Cerita Misteri.


5 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. murid_ki_empu_senoyo says

    wew, critanya cukup menarik..
    sampai saya sndiri tak bisa berkata apa2..
    cukup menegangkan….

    thanks

  2. hira says

    wah ceritanya sangat tegang sampai deg deg an jantung saya serta tangan kaki ku dingin .tapi gimana ya kelanjutannya?. sangat bagus .

  3. Lady_Gothic says

    nice story…

    tp masi penasaran ma kepergian dokter2 itu..

    dokternya kemana n knapa y?

  4. ita says

    seru banget…………………………..

    seremnya bikin tegang

  5. ita says

    seru banget…….

    bikin tegang…………..



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.