** Sedekah Laut Tanggul Kali Malang di Kendal
Setiap datang bulan Mei masyarakat yang tinggal di kampung nelayan Kendal, Jateng menggelar ritual tahunan yang diistilahkan Sedekah Laut Tanggul Kali Malang. Upacara diikuti ribuan warga berlangsung meriah dan khidmat. Setidaknya tidak kurang seratus perahu nelayan ikut mengiringi prosesi larung sesaji menuju ke laut lepas.
Ritual diadakan merupakan puncak perayaan Sedekah Laut Tanggul Kali Malang. Sebelum upacara melarung sesaji ke tengah laut, warga setempat lebih dulu memperingati secara kecil-kecil. Setiap kampung atau RT mengadakan acara kumpul bareng sambil menikmati sajian makanan seadanya.
Peringatan bertujuan mengukuhkan persaudaraan antar warga, di samping secara bersama-sama meresapi makna peringatan yang diadakan. Selama hampir seminggu sebelum prosesi pelarungan sesaji suasana kampung nelayan Kendal terlihat meriah. Setiap warga membuat pesta kecil-kecilan di dalam keluarganya dengan membuat masakan yang lezat.
Diantara sesaji yang dilarung berupa seekor kambing yang sudah disembelih dibawa dengan perahu kertas warna kuning. Sebelum itu terlebih dahulu sesaji diarak beramai-ramai sejauh kurang lebih 200 meter dari rumah tetua desa. Sepanjang jalan iringan-iringan ini menarik perhatian masyarakat setempat.
Sejumlah biduan grup rebana bersama puluhan warga ikut mengiringi arak-arakan yang berlangsung cukup singkat itu. Kendati berlangsung cukup meriah, namun acara yang dipusatkan di Desa Karowelang, Cepiring Kendal ini oleh sebagian masyarakat sekitar dianggap nilai kesakralannya cenderung luntur.
Kegiatan tersebut seolah-olah hanya bersifat seremonial hampir tak terlihat acara ritual di dalamnya. Padahal, makna sejati dari diadakannya cara larung sesaji ini bertujuan untuk mengungkap rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil laut yang telah mereka terima. Anggapan muncul karena dalam upacara ini nyaris tak tampak prosesi agamis.
Sentuhan riligi selama ini sangat kental dalam kehidupan masyarakat pesisir. Hanya keramaian hiburan pasar malam dan para pedagang mremo yang tampak menonjol di acara ini. Para pengunjung yang datang didominasi anak-anak bersama orangtua. Namun, benarkah anggapan demikian?
Sekretaris panitia Sedekah Laut, Sutrisno (47) menjelaskan, kegiatan sedekah laut merupakan perayaan puncak yang sekedar sebagai simbol atas perayaan sebelumnya. “Prosesi ritual yang sesungguhnya pada bulan Sura lalu. Peringatan saat ini sebagai susulan merampungkan ritual sebelumnya,” ujarnya.
Kendati demikian, Sutrisno mengakui kalau dalam beberapa tahun belakangan ini prosesi Sedekah Laut Tanggul Kali Malang cenderung semakin luntur ritualitasnya. Prosesi yang biasanya dilakukan mulai dari Tanggul Kali Malang ini semakin susah dilaksanakan karena terganjal tingkat kesulitan alam sekitar.
“Kondisi aliran sungai yang dangkal, menjadi salah satu penyebab untuk melakukan prosesi ritual sedekah laut. Perahu-perahu nelayan tidak dapat secara serentak beriringan mengikuti perahu pengangkut sesaji ke tengah laut. Daripada kandas, perahu-perahu melaut bergantian,” ujarnya.
Terlepas dari kecenderungan ritual yang luntur, yang pasti masyarakat setempat cukup menikmati sajian berbagai hiburan yang digelar dalam pesta tradisional ini. Selama empat hari bertutut-turut, secara bergantian digelar pentas wayang kulit, wayang golek, dan hiburan ketoprak menampilkan acara pesta. (ais)










0 Responses
Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.