**Sopir Ekspedisi Digoda Hantu Pelacur (2)
Ibarat pucuk dicinta ulam pun tiba. Gadis cantik yang berada di sebelahku seperti memberi sinyal bisa diajak berkencan malam itu. Apalagi aroma harum tubuhnya membuat ku semakin bergairah. Ingin sekali secepatnya menghabiskan malam-malam indah bersama wanita tumpangan ku itu. Ah, gadis itu benar-benar menggodaku.
Ketika aku tanya tentang keberadaannya yang larut malam mencegat mobil sendirian, gadis itu menjawab dengan enteng. “Biasa mas, aku tidak takut kok, kalau mereka mau ya angkat saja, asal aku lagi mood,” jawabnya blak-blakan. Sebagai lelaki petualang tentu aku tanggap dan tahu apa yang dimaksud omongannya itu. “Bisa nih, ada sinyal, berarti gadis ini bisa dibawa malam ini daripada nganggur,” batinku mulai ngeres berpikir keras. Lagian aku juga telah lapor kantor kalau kiriman telah sampai tujuan, mobil aku bawa dan baru pagi harinya aku kekantor.
“Kalau sekarang bagaimana mbak? bisa angkat tidak?” tanyaku iseng-iseng menawarkan diri sambil menunggu respon. Hatiku lumayan deg-degan, pasalnya baru kali ini aku mencoba menawarkan, maklum biasanya gadis-gadis pelacur, bersedia atau tidak itu faktor transaksi. Untuk gadis yang menumpang kali ini, meski baru aku kenal tapi terkesan gadis baik-baik, kalau toh pelacur tentu kelas tinggi bukan kelas jalanan.
Gadis itu melirik ke arahku. Dari muka sampai kakiku tak satu pun lepas dari ejaannya. Meski melirik aku tetap berusaha konsentrasi ke jalan. Jantungku berdegup kencang seakan mau lepas, menunggu jawaban dari penumpang itu.
“Ok… deh aku juga lagi mut,” jawabnya sambil mendekatkan duduknya. Tangan kanannya perlahan merambat nakal merogoh pangkal pahaku yang sejak dari tadi menegang. Belaian itu sangat terasa profesional, membuat aku merasa nikmat, membawa anganku melayang tinggi. “Mbak gimana kelau ke Kaliurang saja mau ga’,” aku mencoba menawarkan tempat yang cocok.
“Baik… asalkan nanti pulangnya pagi-pagi sekali, jangan sampai kesiangan dan ingat jangan buat cepokan di leher nanti pacarku curiga,” katanya. “Kalau cuma itu sih gampang, bisa diatur,” jawabku. Posisi duduk gadis itu makin mendekat saja. Bahkan telah menempel disebelahku, kakinya di kangkangkan, menyeberang pedal persneling membuat aku bebas menggosok paha dan sesekali merogoh selangkangannya. Sementara tangannya liar mempermainkan ‘adikku’ dari luar, membuat ‘adikku’ berdenyut-denyut kuat seakan hendak muntah.
Perjalanan tak terasa telah sampai Salam, perbatasan Magelang Jogja, sebentar lagi sampai jembatan Krasak. Aku lihat meteran bensin menunjuk ke merah pertanda bensin menipis aku pun lalu membelokkan ke POM Bensin, untuk mengisinya. “Jangan sampai kehabisan bensin di jalan, lebih baik aku isi dulu,” pikirku. Apa lagi rencana akuakan membawa gadis tumpanganku menginap ke Kaliurang dan baru esok hari ke Jogja. (diceritakan darminto, Magelang pada mtr)










0 Responses
Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.