Skip to content


Antara Perjalanan Bangsa dan Ajaran Budha

Agama Budha sebagai agama tua, dalam sejarah perkembangan Indonesia, pernah memberi sumbangan yang besar pada masa Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya. Namun, sesudah itu mengalami masa surut dan seakan tenggelam dalam bumi persada pertiwi selama hampir lima abad lamanya.
Pada, masa kejayaan dua kerajaan tersebut, baik agama Hindu maupun agama Budha, duduk dan berdampingan secara damai dan tidak mendominasi satu oleh lainnya. Dua-duanya berjajar duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Hal ini tercermin dari falsafah yang diletakkan oleh pujangga Empu Tantular, yang konon beragama Budha, seperti tersebut dalam Kitab Sutasoma, yang berbunyi: Syiwa Budha bineka tunggal ika, tan hana dharma mangrua, yang artinya Agama Syiwa dan Agama Budha adalah dua agama yang berbeda, namun Kebenaran Sejati pada hakikatnya adalah satu tidak mendua.
Falsafah yang agung beserta penerapannya ini masih hidup dan dipraktikkan oleh umat Hindu di Bali, bahwa dalam suatu upacara agung, seperti di Penataran Agung Besakih, dilakukan upacara keagamaan oleh pedanda Budha dan selanjutnya diteruskan oleh pedanda Siwa.
Demikian juga apa yang kami saksikan suatu upacara keagamaan di Vihara (Wat) Bovoranives, Bangkok, di mana raja Thailand hadir, dapat dinyatakan sempurna bila telah dilakukan upacara keagamaan oleh pendeta Hindu (brahmana) di halaman Vihara dan dilanjutkan oleh para pendeta Budha (biku) di dalam gedung Vihara.
Mengapa di Bali puncak upacara dilakukan oleh pedanda Budha, sedang di Tahiland dilakukan oleh pendeta Budha. Kami kira hal ini untuk menunjukkan agama mana yang lebih mayoritas semata. Mungkin praktik semacam ini baik dilaksanakan di negara kita tercinta guna menunjukkan pluralitas dan toleransi kehidupan beragama di mana tidak ada dominasi mayoritas terhadap minoritas. Semua warga negara ikut merasakan memiliki negara dan bangsa ini, dan ikut mendoakan kesejahteraan bangsanya menurut agama dan kepercayaannya masing-masing.
Bibit-bibit ajaran Budha ditebarkan kembali oleh kaum Theosofi di Indonesia serta kaum Budhis Mahayana, yang kemudian sekitar tahun 1930-an dipertegas dan diperjelas oleh Biku Narada dari Sri Lanka yang sengaja berkelana ke Indonesia. Beliau datang dengan membawa sebuah cangkokan pohon Bodhi dari Anuradhapura, Sri Lanka yang masih mempunyai akar silsilah dengan pohon Bodhi di Budha-Gaya India, di mana pertapa Gautama mendapat Penerangan Agung dan menjadi Budha.
Semasa perang kemerdekaan tidak ada perkembangan agama Budha, karena kita sedang bergulat merdeka atau mati. Perkembangan yang berarti terjadi pada tahun 1956, di mana umat Budha Indonesia ikut merayakan 2500 BUDHA JAYANTI di Candi agung Borobudur, Pawon dan Mendut, yang memperingati 2500 tahun wafatnya Sang Budha Gautama. Tahun ini merupakan tahun patokan bangkitnya kembali agama Budha di Indonesia.
Dengan demikian kalau kita hitung bangkitnya agama Budha di Indonesia belum cukup 40 tahun lamanya. Bagi suatu agama, usia 40 tahun dapat kita katakan usia bayi dibandingkan agama lain yang berakar selama lima abad lamanya.
Salah satu keunikan perkembangan agama Budha di Indonesia adalah penyebarannya dilakukan oleh putra-putra Indonesia sendiri, yang kebanyakan self study tanpa pendidikan formal agama Budha. Tidak pelak lagi dampaknya adalah kericuhan yang tidak pernah berhenti. Ibaratnya sesudah hujan turun, segala macam rumput ikut tumbuh terwadahi dalam satu wadah. Tidak peduli apakah itu rumput Jepang ataupun itu ilalang.
Selama itu namanya rumput, bolehlah ia tumbuh. Celakanya, ladang pertumbuhan sempit dan antarrumput saling memakan. Sekarang sudah tumbuh kesadaran untuk menata kembali pembagian lahan yang ada menjadi lahan yang produktif yang bisa memberikan kontribusi yang berharga pada Republik ini.
Setelah kita menikmati kemerdekaan yang ke-63, kondisi bangsa dan negara kita sudah mengalami banyak perubahan selaras dengan perubahan dan perkembangan dunia. Pekerjaan berat yang kita wujudkan adalah; Memberikan pemahaman tentang ajaran Budha pada para pemeluk tradisionalnya yang pada umumnya hanya berpegang pada upacara leluhurnya. Memberikan pemahaman tentang ajaran Budha pada penduduk asli, bahwa itu adalah agama leluhurnya yang terwujud dalam beberapa ajaran budaya leluhur.
Memberikan kepercayaan diri bahwa agama Budha, bukan agama kuno yang memalukan untuk dipeluk, namun suatu ajaran tua yang masih relevan bagi kehidupanhaya keimanan sesuai dengan ajaran sang Budha. (ais)

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • Blogosphere News
  • LinkedIn
  • Technorati

Posted in Altar.


One Response

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. akhmat saifudin says

    wara wiri



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.