Skip to content


Cheng Beng, Ritual Mendoakan Arwah

  • phph5qimy
  • Warga China di belahan dunia termasuk warga Tionghoa di Indonesia, pada tanggal 1 bulan 3 dalam kalender Imlek atau bulan Maret ini memasuki perayaan Cheng Beng. Mereka melakukan sembahyang penghormatan kepada leluhur atau orangtua masing-masing. Termasuk kepada arwah asing agar diberi ketenangan di alam baka.
    Pergi ke kuburan dalam perayaan Cheng Beng, secara tidak langsung merupakan suatu kewajiban meskipun hanya sebagai tradisi. Bukan agama. Oleh karena itu semua orang Tionghoa dari agama apapun berhak merayakan Cheng Beng.
    Sebenarnya pada zamannya dulu, perayaan Cheng Beng hanya berlangsung satu hari, yaitu pada tiap tanggal 12 bulan 3 atau selalu jatuh pada tanggal 5 April dalam hitungan internasional. Tapi karena jumlah penduduk berkembang pesat, sementara banyak pula yang sudah berpindah tempat jauh.
    Seperti ke luar negeri maupun provinsi tertentu, maka secara sadar tidak sadar, dalam kalender Tionghoa belakangan ada semacam petunjuk dengan tertera tulisan bulan perayaan Cheng Beng. Bahkan berlangsung hampir sebulan. Karena setelah lewat hari H, masih berlaku untuk merayakan sampai 10 hari kemudian. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah waktu bagi mereka yang ingin pulang ke kampung untuk semacam ziarah ke makam leluhur.
    Disamping itu, untuk menjaga agar tidak terjadi penumpukan massa yang secara berbarengan datang ber-Cheng Beng. Karena dalam sembahyang Cheng Beng ada tata krama harus membakar sejumlah sesajen. Maka itu untuk menjaga pikiran orang tentang terjadi kebakaran, maka hal ini akan diminimalisir.
    Sehingga waktu yang boleh dikata berlangsung sebulan ini, sebenarnya untuk membagi waktu saja. Artinya, tidak berlangsung setiap hari. Biasanya hanya pada hari-hari libur, dan sudah dikonfirmasikan ke penjaga makam di wilayang masing-masing. Soalnya kalau menyangkut biaya, biar bagaimana pun harus ada upaya dan pasti sudah dipersiapkan atau setidaknya melakukan tabungan selama hampir setahun.
    Dalam perayaan itu, orang membawa sesajen berupa buah-buahan, makanan, minuman, dan barang-barang tiruan terbuat dari kertas, seperti uang-uangan, koper berisi pakaian, sepatu, dan semacamnya. Semua kategori barang-barang sesampai di kuburan akan dibakar sampai habis di atas kuburan. Karena dipercaya akan diterima oleh arwah atau leluhur. Sedangkan jenis makanan dan buah-buahan boleh dibawa pulang kembali, karena dipercaya setelah dipersembahkan kepada leluhur, maka sesajen ini mengandung berkah atau istilah Tionghoa Peng-an.
    Orang Tionghoa, Ronald (54) mengatakan, tidak bakal datang ke kuburan kalau tidak datang bulan Cheng Beng. “Beda dengan orang agama Katholik yang bisa datang kapan saja,” ujar Ronald yang beragama Katholik, saat ditemui di tokonya di Johar Semarang. Sambil ditambahkan wilayah pemakaman yang jadi sentra perayaan Cheng Beng terdapat Kedungmundu Semarang, Ambarawa, Muntilan, dan lainnya.
    Kata Ronald, perayaan Cheng Beng sebenarnya bisa dikatakan semacam tahun baru bagi orang yang meninggal. Artinya, kalau orang hidup di dunia tahun barunya adalah perayaan Imlek. Di mana terjadi semacam kewajiban agar orang yang muda bersilahturahmi mengunjungi orang yang lebih tua.
    Hampir senada ditambahkan Ko Awie, sebenarnya waktu sembahyang itu sendiri tidak lama. Begitu ditaruh semua sesajen, lalu berdoa, selanjutnya dibakar, dan yang lain dibawa pulang. “Doa-doa itu tidak ada aturan atau sesuai dengan kitab tertentu. Semua berdasarkan kalimat yang mengalir dalam diri kita masing-masing di depan pekuburan leluhur. Jadi, kalimatnya bebas-bebas saja,” ucap Ko Awie yang dikenal sebagai suhu alias paranormal ini, sore kemarin.
    Sambil ditambahkan Ronald pula, semua tata krama berdoa dan sembahyang tidak ada panduan dari pandita maupun juru kunci makam, atau lain-lainnya. Semua dilakukan secara pribadi sekali. Jadi kita tidak tahu apa yang jadi niat masing-masing orang dalam melakukan sembahyang Cheng Beng.
    Kalau mau minta berkah berupa perlindungan, rezeki, dan sebagainya, kata dia, silahkan terserah individunya. “Pokoknya kita datang ke kuburan, lalu bawa sesajen, terutama yang digemari oleh leluhur semasa masih hiudp, terus sembahyang, berdoa, dan membawa pulang,” jelasnya. (ais)

    Share and Enjoy:
    • Digg
    • del.icio.us
    • Facebook
    • Google Bookmarks
    • email
    • Blogosphere News
    • LinkedIn
    • Technorati

    Posted in Altar.


    0 Responses

    Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



    Some HTML is OK

    or, reply to this post via trackback.