Heni tinggal di kawasan Rawabelong, Jakarta Selatan, terpaksa menanggung beban sendirian. Sang pacar tak berani bertanggung jawab atas kehamilannya. Apa boleh buat, ia tetap akan merawat janin dalam kandungannya. Meskipun sendirian. Toh, ia merasa mampu untuk mempertahankan hidupnya.
Heni bukan satu-satunya perempuan yang mengalami nasib buruk itu. Menanggung malu di mata masyarakat dan harus membesarkan anaknya kelak. Ia adalah korban dari egoisme lelaki.
Perempuan berumur 22 tahun ini tak menyangka, kekasih yang dulu sangat dipuja itu. Kini hanya memberinya penderitaan. Udin, telah dipacarinya selama 1 tahun. Keduanya bekerja di Bandung di sebuah pabrik tekstil. Perkenalan yang semula biasa saja menjadi luar biasa. Setelah Udin menyatakan cinta pada Heni. Sebagai perempuan muda, Heni memang cukup menarik, hitam manis dengan tahi lalat di bawah mata.
Udin kasmaran berat dengan gadis yang masih hijau ini. Sementara Heni juga tertarik dengan pemuda asal Blora ini. Karena Udin sangat baik, perhatian dan tidak neko-neko. Lagi pula, Heni tergolong gadis lugu, begitu ada kata cinta, langsung disambutnya.
Merasa mendapatkan lelaki yang cocok, ia tak menolak. Bahkan harapannya melambung tinggi. Inilah jodohku, begitu pikirnya. Masa pacaran yang indah, dilalui dengan penuh kemesraan. Layaknya sepasang kekasih dimabuk cinta.
Di manapun mereka berada selalu menampakkan kasih sayang. Bahkan Heni sudah mengajak Udin ke rumah orang tuanya di Mranggen. Kerap kali Udin menginap di rumah Heni.
Itu juga yang membuat hatinya mantap untuk meniti hidup bersama Udin. Sampai suatu kali, keduanya terlibat dalam adegan asyik masyuk yang sebenarnya belum boleh dilalukan. Mereka bercinta layaknya suami istri di kamar kos Udin.
Pengalaman pertama yang mengasyikkan sekaligus membuat terlena. Meski demikian, Udin berjanji akan menikahinya. Bahkan ia bersumpah setia sampai mati. Janji lelaki itu, 6 bulan lagi, Heni akan dilamar. Heni yang malang percaya begitu saja dengan ucapan kekasihnya.
Lantaran, cintanya begitu besar. Namun, sejak itu, Udin ketagihan. Ia meminta melakukan hubungan seks lagi. Heni selalu menolak. Ia ketakutan akan hamil sebelum menikah. Suatu ketika, Udin benar-benar mendesak untuk memuaskan nafsunya.
Dengan disertai rayuan dan janji manis bakal segera melamar, akhirnya making love kedua terjadi. Ternyata sebulan setelah itu, Heni terlambat menstruasi. Ia cemas, tergopoh-gopoh dikabarkan hal itu pada kekasihnya.
Apa jawab Udin, gugurkan saja. Lemas lunglai perasaan Heni. Ia tak membunuh janin darah dagingnya. Ia mendesak agar segera dinikahi. Tetapi Udin mengatakan belum siap. Ujung-ujungnya lelaki itu menghilang. Meninggalkan kekecewaan. Heni menangis, menyesali sikap Udin yang tak jantan. Dengan ketabahan luar biasa ia tetapkan untuk merawat kandungannya. Ia pulang ke rumah orang tuanya dan mengatakan semua penderitaan itu.
Orang tua mana yang tak nelangsa dengan keadaan ini. Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Meskipun sudah dicari di rumah orang tuanya, Udin tak ketemu. Untunglah, orangtua Udin memahaminya. Mereka berjanji akan membantu membesarkan anak Heni kelak. (cerita kiriman dudy, hayam wuruk, jaksel)
Pages
Altar (5)
Alternatif (26)
Cerita Cinta (21)
Cerita Misteri (43)
Jagad Aneh (10)
Jagad Keramat (17)
Japa Mantra (17)
Karomah (6)
Mitos (15)
News (21)
Primbon (4)
Sekse (18)
Situs (33)
Sufi (1)
Umum (2)
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck and Luke Morton requires Flash Player 9 or better.
Arsip
- May 2009 (6)
- April 2009 (6)
- March 2009 (11)
- February 2009 (12)
- January 2009 (18)
- December 2008 (29)
- November 2008 (10)
- October 2008 (11)
- July 2008 (1)
- June 2008 (3)
- May 2008 (61)
- April 2008 (54)
- March 2008 (24)
- 0 (1)









thu mah salah loe sndri…