Pada jaman para jagabaya (penjaga keamanan) banyak difungsikan untuk menjaga keamanan di suatu wilayah, ada satu ilmu kadigdayaan yang amat dikenal ampuh. Tidak lain sebagai bekal para jagabaya saat menjalankan tugas. Ajian ini pernah dilakoni para jagabaya yang dipersiapkan untuk menjaga perkampungan di daerah Batu Raden, Purwokerto. Namanya, ajian Ismu Gunting. Bagaimana laku ajian kadigdayaan tersebut?
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Purwokerto, pada tahun 1950-an ada segerombolan perampok yang sangat bengis. Mereka bukan hanya mengambil harta benda milik penduduk, tetapi juga memperkosa dan membunuh penduduk yang berani menentang perintahnya. Tidak segan warga diminta menyerahkan harta, dan harus menyetor pajak setiap minggu.
Karena perilaku mereka sudah keterlaluan maka jagabaya (keamanan desa) disertai dengan seorang pendekar melakukan penyerangan pada perampok yang bermarkas di tengah hutan (kawasan lereng gunung Slamet) tersebut. Melalui pertempuran yang sengit, akhirnya perampok itu tewas dengan dada yang membiru. Sepertinya dada mereka remuk redam. Ajian apa yang dipakai para jagabaya itu?
Konon, pukulan ajian ini dapat meremukkan dada musuh. Musuh tidak menyingkir atau tidak melapisi dengan kekebalan ilmu lain dipastikan akan binasa dalam waktu singkat. Sebab, reaksi ajian Ismu Gunting dikenal sangat cepat dan tidak perlu menunggu pelaku mengumpulkan tenaga dalam terlebih dahulu. Karena itu, si pelaku ajian tidak diperkenankan sembarangan orang menggunakannya.
Ajian diciptakan oleh salah seorang pertama tua yang dulunya sering muncul di sekitar kawasan lokasi wisata Baturraden, Purwokerto. Lantas diamalkan ke beberapa orang murid yang dia percayai. Tujuan dia mencipta ajian ini untuk mengatasi orang-orang yang berlaku jahat dan tidak punya batas kemanusiaan.
Kabar menarik lain, ilmu ini selanjutnya dikuasai oleh para jagabaya dengan cara mudah. Tidak ada persyaratan yang menyulitkan, termasuk dalam hal menghafal mantera-manteranya. Adapun bunyi mantera ajian Ismu Gunting yang biasa diajarkan, sebagai berikut ini; “Ya hu, Jabardis jabardis, Bar tatas keris Sulaiman, Dikaya kerismu, Ngaku landepe tangan kita. Ya hu, Alluhuma banas banas, La khaula wa la kauwata, Illabilahil aliyil alim”.
Laku selanjutnya cukup gampang. Cukup menjalankan puasa kenahat selama 40 hari 40 malam. Puasa kenahat adalah puasa dengan cara sekali makan dalam sehari semalam. Tidak boleh lebih. Namun dengan ketentuan yang harus dipatuhi, yakni selama puasa waktu yang dipakai saat makan harus sama.
Selama menjalankan puasa dan tirakatan ini, pelaku ajian harus membaca mantera tersebut di atas sebanyak kurang lebih 15 kali. Lebih banyak mengamalkan lafalan mantera konon kekuatan ilmu yang didapat semakin bertambah tinggi. Waktu dibutuhkan saat proses peralihan kekuatan ke dalam tubuh pun semakin cepat. (ais)
Pages
Altar (5)
Alternatif (26)
Cerita Cinta (21)
Cerita Misteri (43)
Jagad Aneh (10)
Jagad Keramat (17)
Japa Mantra (17)
Karomah (6)
Mitos (15)
News (21)
Primbon (4)
Sekse (18)
Situs (33)
Sufi (1)
Umum (2)
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck and Luke Morton requires Flash Player 9 or better.
Arsip
- May 2009 (6)
- April 2009 (6)
- March 2009 (11)
- February 2009 (12)
- January 2009 (18)
- December 2008 (29)
- November 2008 (10)
- October 2008 (11)
- July 2008 (1)
- June 2008 (3)
- May 2008 (61)
- April 2008 (54)
- March 2008 (24)
- 0 (1)









0 Responses
Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.