Skip to content


Siluman Ular Murka Datangkan Banjir

** Keangkeran Sungai Tempur Desa Krajan, Sukoharjo

Ada kepercayaan mistis yang masih dipercayai warga Desa Krajan, Sukoharjo, Jawa Tengah. Kabarnya air sungai yang melintas desa setempat tiba-tiba saja bisa meluap. Meski ketika itu alam sekitar memasuki musim kemarau. Sepintas, orang mungkin tidak akan percaya bila sungai itu dapat menggenangi seluruh desa. Tapi, banjir bandang itu terjadi disebabkan murka siluman Blorong yang menghuni sungai.
Sungai (kali) Tempur dikenal angker oleh warga Krajan lantaran keberadaan sosok ular jelmaan lelembut Blorong yang menjadi penghuni tetap sekitar sungai. Terletak di ujung jalan menuju ke Desa Krajan. Warga setempat tidak asing lagi dengan kejadian aneh yang kerap terjadi di sekitar sungai amat dikeramatkan ini.
Dipercayai sungai tersebut merupakan tempat pertemuan antara sungai Jebolan dan sungai Gawok telah menjadi tempat tinggal siluman Blorong yang menjaga desa Krajan dan sekitarnya. Menurut cerita warga setempat menyebutkan, siluman Blorong merupakan lelembut jelmaan Kyai Baladewa. Yakni, orang yang pertama tinggal dan menyebarkan agama Islam di wilayah tersebut. Semasa hidup dia dikenal sebagai tokoh kharismatik yang oleh masyarakat setempat sangat disegani. Tidak cuma karena punya ilmu tinggi, kepandainnya juga membawanya menjadi orang yang alim bijaksana.
Dia kemudian membangun pendopo di bantaran sungai yang dijadikan tempat untuk menyebarkan agama Islam. Tatkala sakit keras menderanya, ia meminta untuk dipindahkan ke pendopo yang dibangunnya itu. Sesaat kemudian ia dikabarkan meninggal dunia. Anehnya, banjir bandang menyertai kematian itu sehingga pendopo dan jasad Kyai Baladewa hanyut bersamanya.
Selang beberapa hari kemudian sejumlah penduduk menyaksikan adanya seekor ular yang sangat besar. Diperkirakan wujud ular itu bukan binatang beneran melainkan jelmaan makhluk halus. Kepala ular itu terlihat aneh karena mengenakan semacam mahkota. Oleh penduduk, siluman itu diberi nama siluman Blorong. Mereka percaya jika siluman Blorong adalah jelmaan Kyai Baladewa yang telah meninggal dunia.
Penampakan siluman itu menyebabkan masyarakat mengeramatkan tempat tersebut. Tidak ada seorang pun yang berani buang hajat atau memandikan ternak di kali Tempur. Pelanggaran terhadap hal ini dapat menimbulkan petaka bagi seluruh desa.
Konon, ada seorang penduduk, entah sengaja atau tidak, pernah memandikan kerbau di sungai tersebut. Selang beberapa saat air sungai bergolak sehingga terjadi banjir badang menerpa Desa Krajan.
Bersamaan datangnya air besar tanpa disangka sebagian warga melihat ular besar dengan makhota di atas kepalanya itu tengah mengibas-ngibaskan ekornya. Menimbulkan suara gemuruh beriringan dengan derasnya air yang terus menggenangi kawasan desa. Makin keras kibasan ekor ular makin besar angin yang datang. Itu pun ada yang tahu darimana datangnya air tersebut.
Sebab saat itu tidak ada hujan, baik di desa itu maupun di hulu sungai. Mereka menduga, siluman Blorong murka karena tempatnya telah dikotori dengan kotoran binatang. Untuk meredam kemarahan penjaga gaib itu, setiap tahun, sehabis panen, penduduk memberikan sesaji kepada siluman Blorong berupa sedekah bumi. Mereka berharap agar siluman tersebut memberikan berkah kepada penduduk setempat. (ais)

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • Blogosphere News
  • LinkedIn
  • Technorati

Posted in Situs.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.