Skip to content


Maung Sadewo Meluluhkan Musuh

Pada zaman kerajaan Padjajaran ada satu ilmu kesekten cukup digandrungi kalangan pendekar kala itu. Sifat ilmu tidak menyakiti musuh, namun cukup membuat jera dan segan terhadap orang yang menguasai ilmu. Namanya Aji Maung Sadewo. Lakunya tidak neko-neko, cukup dengan puasa ngelowong dan membaca mantera. Ingin membuktikan?
Orang punya niat jahat akan luluh dihadapan pemilik kadigdayaan Maung Sadewo. Para ahli supranutural menggolongkan ilmu ini bagian dari ilmu putih. Tidak boleh digunakan sembarangan. Hanya waktu terdesak dan tengah berhadapan dengan musuh yang hendak menyakitinya. Maung Sadewo dulu sering digunakan para pengembara dan pendekar jalanan.
Tidak salah jika ajian ini sekarang masih banyak dikuasai kalangan tertentu. Misalkan, pedepokan, tempat pelatihan ilmu beladiri, dan pondok pesantren sebagian mengajarkan ajian ini untuk bekal kekebalan dan keselamatan para murid dan santri.
Sifat ilmu bisa meluluhkan sifat orang jahat, menjadi efektif jika dipergunakan di saat tengah terjepit. Tidak mau menyerang meski musuh yang memulai perkara sudah bersiap menyerang. Maka, upaya yang harus dilakukan cukup sekedar menangkis dan menghindari serangan.
“Pas kiranya jika dalam posisi terjepit seperti itu, ajian Maung Sadewo dipergunakan. Tidak perlu harus balik menyerang,” ujar Ki Broto ahli supranatural kepada misterionlie. Sama seperti ilmu kekebalan lainnya, jika emosi musuh terpancing untuk menyerang tidak sesentipun dapat menjamah kulitnya.
Dengan fenomena serba global sekarang manfaat ilmu Maung Sadewo nyatanya tidak sekedar diandalkan sebagai ilmu kekebalan. Ada sebagian kalangan yang mengamalkan untuk membungkam mulut orang yang suka berkata tidak jujur, suka berbohong, dan mengeluarkan kata-kata yang tidak sepantasnya.
Tanpa disadari oleh orang itu, tiba-tiba mulutnya yang lancing seperti keluh dan tidak bisa dibuat mengucapkan kata-kata lebih banyak. Seperti terpaku dan sulit untuk mengucapkan kata yang tidak enak didengar telinga. Terlebih lagi jika emosi orang yang tersebut tengah tinggi, ilmu ini lebih ampuh untuk memaku mulutnya.
Labih tepat lagi menurut Ki Broto para pejabat atau pegawai karier banyak yang mengamalkan ilmu ini untuk mempengaruhi lawan saingannya. Mulut ‘musuh’ itu dibungkam dan seakan-akan tidak mampu lagi mengingat apa yang harus diucapkan. Kosentrasinya pecah hingga sering mengucapkan kata-kata yang salah. “Cuma untuk demikian tidak baik. Memang aji ini ampuh untuk menjaga kewibawaan,” tambahnya.
Adapun ajian yang harus diucapkan tiap hendak membutuhkan kekuatan luar tubuh ini, antara lain: “Assalamu alaikum alaa syaidina khidir alaihissalam. Assalamu alaikum alaa syaidina ali rodiyallahu anhu. Kem-kem pambungkem kang sarwo galak cangkeme pinatek ing paku kencono. Kang kesorot mripatku soyo runduk songko kersaning Allah. Yaa.. Nur… (ya Nur dibaca 13 kali tanpa nafas).
Sedang laku ritual dijalani dengan puasa mutih selama 7 hari 7 malam. Ditambah puasa ngrlowong selama sehari semalam. Namun, perlu diingat jika laku ini harus dimulai pada hari Rabu Pon. Selama puasa si laku membaca mantera tersebut di atas sebanyak 11 kali setiap selesai menjalankan shalat wajib. (ais)

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • Blogosphere News
  • LinkedIn
  • Technorati

Posted in Japa Mantra.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.